88% Media Ternama Kini Memblokir Bot AI di Tengah Kekhawatiran Penggunaan Konten

Last Updated:
88% Media Ternama Kini Memblokir Bot AI di Tengah Kekhawatiran Penggunaan Konten
  • Beberapa perusahaan media terkemuka kini membatasi bot AI di platform mereka.
  • Sebuah survei mengungkapkan bahwa 88% outlet berita peringkat teratas di AS telah memulai pemblokiran tersebut.
  • Pembatasan ini terjadi ketika perusahaan AI mendapat kecaman karena pelanggaran hak cipta dan penggunaan konten.

Beberapa perusahaan media di Amerika Serikat kini memblokir perayap web yang digunakan oleh perusahaan kecerdasan buatan (AI) seiring dengan berlanjutnya perjuangan melawan pelanggaran hak cipta dan penggunaan konten tanpa kompensasi.

Menurut laporan Wired, 88 persen outlet berita terkemuka di AS telah merancang cara untuk membatasi aktivitas pengumpulan data perusahaan AI. Data yang dikumpulkan oleh crawler digunakan oleh perusahaan untuk melatih chatbot mereka dan proyek AI lainnya.

Laporan tersebut menyatakan bahwa survei yang dilakukan oleh startup pendeteksi AI yang berbasis di Ontario, Originality AI, mencatat tren yang berkembang di antara perusahaan media. Berdasarkan laporan tersebut, hampir semua 44 situs berita teratas yang disurvei memblokir crawler web AI. Itu termasuk outlet seperti The New York Times, The Washington Post dan The Guardian.

Lebih lanjut, survei tersebut mengungkapkan bahwa GPTBot OpenAI adalah crawler yang paling banyak diblokir. Survei orisinalitas lebih lanjut menunjukkan bahwa sebagian besar pembatasan crawler web terjadi setelah OpenAI mengumumkan crawler-nya akan mematuhi tanda robots.txt pada Agustus 2023. File robots.txt adalah file yang digunakan situs web untuk memberi tahu crawler web apakah mereka diterima atau dilarang.

Sementara itu, penolakan perusahaan media terhadap aktivitas AI menggarisbawahi meningkatnya ketegangan terkait pelanggaran hak cipta dan pengumpulan data. Menyusul booming-nya teknologi AI, para pemain besar di sektor ini mendapat sorotan karena data yang digunakan dalam pelatihan model mereka.

Desember lalu, The New York Times memulai gugatan terhadap OpenAI atas hak cipta atas penggunaan tidak sah atas karya terbitan. Tindakan hukum yang dilakukan oleh raksasa media ini merupakan tindakan hukum pertama sejak maraknya teknologi kecerdasan buatan.

The New York Times berpendapat bahwa jutaan artikelnya digunakan untuk melatih chatbot. Lebih lanjut, dikatakan bahwa chatbot terlatih kini bersaing sebagai sumber informasi alternatif yang dapat dipercaya. Selain itu, raksasa media tersebut meminta agar OpenAI bertanggung jawab atas “milyaran dolar kerugian menurut undang-undang dan kerugian aktual.”

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.