Game Blockchain Menjanjikan Item Jadi Milik Pemain, Tapi Ada Syaratnya

Last Updated:
Game Blockchain Menjanjikan Item Jadi Milik Pemain, Tapi Ada Syaratnya
Google News

Get our latest news first. Add us as your Preferred Source on Google and tap "Star" to prioritize our updates.

Bayangkan membeli pedang langka dalam sebuah game, lalu beberapa tahun kemudian pengembang memutuskan menutup servernya. Apakah pedang tersebut masih menjadi milik Anda, atau ikut menghilang bersama permainan itu?

Pertanyaan inilah yang menjadi salah satu daya tarik game blockchain. Berbeda dari sistem game konvensional, teknologi blockchain memungkinkan sebagian item digital dicatat sebagai aset yang dapat disimpan dalam dompet kripto dan diperdagangkan di luar aplikasi.

Namun, ada perbedaan besar antara memiliki NFT yang mewakili sebuah item dan memiliki hak untuk terus menggunakan item tersebut dalam game.

Blockchain bisa mencatat kepemilikan token, tetapi tidak menjamin server game akan tetap berjalan, harga item terus meningkat, atau aset yang dibeli bisa digunakan dalam permainan lain.

Bagi pemain Indonesia yang tertarik dengan game kripto, memahami perbedaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar mengejar imbalan token atau NFT gratis.

Apa Itu Game Blockchain dan Apa Bedanya dengan Game Biasa?

Game blockchain adalah permainan yang menggunakan teknologi blockchain untuk mencatat atau mengelola sebagian aset, transaksi, maupun aktivitas dalam ekosistemnya.

Teknologi tersebut dapat diterapkan untuk menyimpan kepemilikan karakter, perlengkapan, kartu koleksi, tanah virtual, atau token yang digunakan sebagai mata uang dalam game.

Sebagai contoh, pemain bisa memiliki karakter berbentuk NFT yang tercatat pada alamat dompet kripto mereka.

Ketika karakter tersebut dijual, blockchain mencatat perpindahan token dari dompet penjual ke dompet pembeli.

Namun, tidak seluruh bagian permainan harus berjalan di blockchain. Grafis, gerakan karakter, kecerdasan musuh, dan sistem pertandingan sering kali masih diproses melalui perangkat serta server biasa.

Perbedaan utamanya terletak pada bagaimana kepemilikan aset tertentu dicatat dan dikelola.

AspekGame KonvensionalGame Blockchain
Item digitalUmumnya tercatat dalam akun dan basis data pengembangSebagian item dapat dicatat sebagai token atau NFT
Perdagangan itemBergantung pada marketplace dan kebijakan gameNFT tertentu dapat diperdagangkan melalui marketplace eksternal
Penyimpanan asetBiasanya melekat pada akun gameDapat menggunakan dompet kripto pribadi
Transparansi transaksiBergantung pada data yang disediakan pengembangPerpindahan token on-chain dapat diperiksa publik
Ketika server tutupItem biasanya tidak dapat digunakanToken mungkin tetap ada, tetapi fungsi item dalam game bisa hilang

Perbandingan tersebut bukan berarti seluruh game blockchain memberikan kebebasan penuh kepada pemain.

Hak penggunaan dan perdagangan aset tetap bergantung pada kontrak pintar, aturan game, dan ketentuan layanan pengembang.

Mengapa Game Blockchain Sempat Menarik Banyak Pemain?

Salah satu alasan berkembangnya blockchain gaming adalah gagasan bahwa pemain dapat memiliki dan memperdagangkan aset yang diperoleh dari aktivitas bermain.

Dalam game konvensional, pembelian skin atau item umumnya memberikan hak penggunaan sesuai ketentuan penerbit game.

Sementara itu, NFT memungkinkan kepemilikan token tertentu dicatat pada blockchain, sehingga aset tersebut berpotensi dipindahkan tanpa harus mengandalkan sistem inventaris internal game.

Selain itu, sejumlah permainan menawarkan reward kripto kepada pemain yang menyelesaikan misi, memenangkan pertandingan, atau berpartisipasi dalam kegiatan tertentu.

Model ini kemudian dikenal luas melalui konsep Play-to-Earn, meskipun tidak semua game blockchain menerapkan sistem penghasilan.

Namun, perkembangan industrinya juga mengalami pasang surut.

Menurut laporan State of Blockchain Gaming Q3 2025 dari DappRadar, sektor ini mencatat rata-rata sekitar 4,66 juta dompet aktif unik harian pada kuartal III 2025.

Jumlah tersebut turun 4,4 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, meskipun blockchain gaming tetap menjadi salah satu kategori aplikasi Web3 yang aktif.

Penting dipahami bahwa dompet aktif tidak sama dengan jumlah pemain manusia. Satu orang bisa menggunakan beberapa dompet, sementara sebagian aktivitas blockchain dapat dilakukan secara otomatis.

Data tersebut memperlihatkan bahwa industri game blockchain memiliki aktivitas nyata, tetapi pertumbuhannya tidak selalu berlangsung secara konsisten.

Apakah Item Game Blockchain Benar-Benar Milik Pemain?

Jawabannya bergantung pada jenis aset dan hak yang diberikan pengembang.

Dalam sistem NFT, blockchain dapat mencatat bahwa sebuah alamat dompet menguasai token tertentu. Token tersebut dapat mewakili karakter, kartu, senjata, atau tanah virtual.

Namun, kepemilikan NFT tidak otomatis berarti pemain memiliki hak cipta atas gambar, desain karakter, atau seluruh teknologi di balik item tersebut.

Pemain juga belum tentu berhak menggunakan aset tersebut secara komersial.

Sebagai contoh, seseorang yang membeli NFT karakter game dapat memiliki tokennya, tetapi pengembang masih bisa menetapkan aturan mengenai penggunaan karakter di dalam permainan.

Ada tiga hal yang perlu dibedakan:

  • Kepemilikan token: Siapa yang memegang NFT atau aset digital pada blockchain.
  • Hak penggunaan: Apa yang boleh dilakukan pemain dengan item menurut ketentuan game.
  • Fungsi dalam permainan: Apakah item masih didukung dan dapat digunakan oleh aplikasi yang bersangkutan.

Ketiga hal tersebut tidak selalu berjalan bersama.

Menurut dokumentasi penyimpanan metadata OpenSea, informasi NFT dapat disimpan melalui server biasa, IPFS, Arweave, atau langsung di blockchain.

Artinya, meskipun NFT masih tercatat pada blockchain, gambar atau informasi yang bergantung pada server eksternal berpotensi tidak lagi tersedia jika penyimpanan tersebut bermasalah.

Inilah salah satu batasan penting dari klaim bahwa item game blockchain akan tetap dimiliki pemain selamanya.

Apa yang Terjadi jika Game Blockchain Tutup?

Ketika sebuah game blockchain menghentikan operasionalnya, NFT yang sudah berada dalam dompet pribadi belum tentu langsung hilang.

Selama blockchain dan kontrak tokennya masih berfungsi, catatan kepemilikan NFT dapat tetap tersedia.

Namun, ada beberapa kemungkinan yang perlu dipahami.

Pertama, NFT masih bisa dilihat di dompet atau marketplace, tetapi tidak lagi memiliki fungsi karena game yang mendukungnya sudah ditutup.

Kedua, NFT mungkin masih dapat diperdagangkan, tetapi tidak ada jaminan pembeli akan tetap berminat.

Ketiga, aset tersebut dapat digunakan dalam game lain hanya apabila pengembang permainan baru menyediakan dukungan yang sesuai.

Pada Oktober 2026, Ronin menjelaskan bahwa proyek Moku mengembangkan mekanisme yang memungkinkan NFT dari game yang sudah ditutup dimanfaatkan untuk memperoleh unit dalam pengalaman permainan baru.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa aset digital memang dapat memperoleh fungsi baru setelah sebuah game berhenti beroperasi.

Namun, hal itu membutuhkan pengembangan dan integrasi khusus. Pemain tidak dapat menganggap seluruh NFT otomatis kompatibel dengan game lain hanya karena berada pada blockchain yang sama.

Contoh Game Blockchain yang Bisa Dipelajari

Ada berbagai jenis permainan yang menggunakan blockchain, mulai dari game strategi hingga permainan kartu koleksi dan simulasi pertanian.

Berikut beberapa contoh dengan model penggunaan aset digital yang berbeda.

Axie Infinity: Karakter Digital yang Bisa Diperdagangkan

Axie Infinity merupakan salah satu contoh populer game blockchain yang menggunakan karakter digital bernama Axie.

Karakter tersebut berbentuk NFT yang dapat dimiliki dan diperdagangkan melalui ekosistem Ronin.

Menurut panduan resmi Axie Infinity, pemain dapat membeli aset NFT melalui marketplace dengan token yang didukung jaringan Ronin.

Namun, harga karakter bergantung pada permintaan pasar, atributnya, dan kondisi ekonomi game.

Memiliki Axie tidak berarti pemain akan memperoleh pendapatan tetap atau dapat menjualnya kembali dengan keuntungan.

Gods Unchained: Kartu Koleksi Berbasis NFT

Gods Unchained merupakan game kartu strategi yang menggunakan blockchain untuk sebagian aset koleksinya.

Berdasarkan dokumentasi Immutable, kartu tertentu dapat dibuat menjadi NFT dan diperdagangkan dengan pemain lain melalui marketplace yang didukung.

Namun, tidak semua kartu dalam permainan merupakan NFT.

Contohnya, kartu biasa dengan kualitas tertentu tidak dapat langsung diperdagangkan sebagai aset blockchain.

Permainan Gods Unchained sendiri juga tidak seluruhnya berjalan di blockchain. Dokumentasi resminya menjelaskan bahwa sistem permainan menggunakan server dan perangkat lunak konvensional, sementara blockchain digunakan untuk mengelola aset tertentu.

Contoh ini memperlihatkan bagaimana teknologi game biasa dan blockchain dapat digunakan secara bersamaan.

Pixels: Simulasi Pertanian di Ekosistem Ronin

Pixels merupakan game simulasi yang memungkinkan pemain mengembangkan aktivitas pertanian, berinteraksi dengan pemain lain, dan menggunakan aset digital dalam ekosistemnya.

Game ini termasuk dalam daftar permainan resmi Ronin.

Seperti game blockchain lainnya, sebagian aktivitas dan aset Pixels terhubung dengan ekonomi berbasis token.

Namun, kesempatan memperoleh reward bergantung pada kebijakan permainan, aktivitas pengguna, dan perubahan mekanisme ekonomi yang ditetapkan pengembang.

Karena itu, pemain sebaiknya menilai kualitas gameplay terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan nilai finansial token yang digunakan.

Blockchain Apa Saja yang Digunakan untuk Game?

Game blockchain tidak hanya berjalan di Ethereum.

Pengembang menggunakan berbagai jaringan berdasarkan kebutuhan biaya, kecepatan transaksi, kompatibilitas aplikasi, dan dukungan infrastrukturnya.

Beberapa jaringan yang digunakan dalam pengembangan game blockchain antara lain:

  • Ethereum: Mendukung NFT, smart contract, dan berbagai aplikasi Web3, termasuk solusi penskalaan Layer-2.
  • Ronin: Blockchain yang berfokus pada ekosistem game, termasuk Axie Infinity dan Pixels.
  • Immutable: Menyediakan infrastruktur blockchain gaming, termasuk sistem dompet dan perdagangan aset digital.
  • Polygon: Digunakan untuk berbagai aplikasi Web3 yang membutuhkan biaya transaksi relatif rendah.
  • Solana: Mendukung aplikasi blockchain dengan transaksi berkecepatan tinggi dan biaya jaringan rendah.
  • BNB Smart Chain: Mendukung aplikasi game dan NFT yang kompatibel dengan teknologi Ethereum Virtual Machine.

Setiap jaringan memiliki biaya, dompet, dan aturan transaksi yang berbeda.

Pemain harus memastikan bahwa aset yang dikirim menggunakan jaringan yang didukung oleh game maupun dompet penerima.

Kesalahan memilih jaringan dapat mengakibatkan aset tidak muncul atau bahkan sulit dipulihkan.

Untuk memahami salah satu jaringan tersebut, pembaca dapat mempelajari panduan Solana dan fungsi token SOL.

Apakah Main Game Blockchain Bisa Menghasilkan Uang?

Sebagian game blockchain memungkinkan pemain memperoleh aset digital yang dapat diperdagangkan.

Namun, aktivitas bermain tidak otomatis menghasilkan pendapatan yang stabil.

Ada beberapa model ekonomi yang digunakan dalam industri ini.

Play-to-Earn (P2E) memberikan kesempatan memperoleh token atau aset tertentu melalui aktivitas bermain, sesuai aturan game.

Play-and-Earn biasanya digunakan untuk menggambarkan pendekatan yang lebih menekankan pengalaman bermain, dengan reward sebagai unsur tambahan.

Selain reward token, pemain juga mungkin memperoleh penghasilan dari penjualan NFT, turnamen, atau pembuatan konten digital yang didukung suatu platform.

Namun, seluruh model tersebut tetap memiliki keterbatasan.

Misalnya, pemain membeli NFT seharga Rp200.000 untuk mengikuti sebuah permainan. Beberapa waktu kemudian, harga jual item tersebut turun menjadi Rp150.000.

Meskipun pemain memperoleh token reward selama bermain, aktivitas tersebut belum tentu menghasilkan keuntungan jika nilai imbalannya lebih kecil daripada penurunan harga NFT dan biaya transaksi yang dikeluarkan.

Selain itu, likuiditas pasar perlu diperhatikan.

NFT yang tercatat memiliki harga tertentu di marketplace belum tentu bisa langsung terjual pada harga tersebut.

Karena itu, game blockchain lebih aman dipahami sebagai permainan yang mungkin memiliki ekonomi digital, bukan sebagai sumber penghasilan yang dijamin.

Peran NFT dalam Game Blockchain

NFT atau non-fungible token merupakan aset blockchain yang memiliki identitas token tertentu, sehingga dapat dibedakan dari token lain.

Dalam game, NFT dapat digunakan untuk mewakili karakter, kartu koleksi, skin, perlengkapan, atau tanah virtual.

Namun, NFT tidak selalu diperlukan untuk seluruh aktivitas dalam sebuah permainan.

Pengembang dapat menggunakan token biasa untuk mata uang game, NFT untuk aset koleksi, dan basis data tradisional untuk mencatat progres pemain.

Penggunaan NFT juga tidak secara otomatis membuat item menjadi langka atau bernilai tinggi.

Kelangkaan bergantung pada aturan penerbitan, jumlah aset yang tersedia, dan apakah pengembang dapat menambah koleksi baru.

Sementara itu, nilai pasar bergantung pada permintaan pembeli.

Sebuah NFT bisa memiliki pasokan terbatas, tetapi tetap sulit dijual apabila tidak ada orang yang ingin membelinya.

Bagaimana Bermain Game Blockchain Lewat HP?

Bagi pembaca Indonesia, akses melalui ponsel menjadi salah satu pertimbangan praktis sebelum mencoba game blockchain.

Namun, tidak semua game Web3 tersedia sebagai aplikasi Android atau iOS.

Sebagian dimainkan melalui browser, sebagian memerlukan komputer, dan sebagian lainnya menyediakan aplikasi seluler.

Pemain dapat memulai dengan beberapa langkah berikut:

  1. Cari game melalui situs resminya. Periksa apakah tersedia versi ponsel, browser, atau PC serta perangkat yang didukung.
  2. Periksa apakah game gratis dimainkan. Beberapa game menawarkan akses awal tanpa NFT, sementara game lain memerlukan pembelian karakter atau aset.
  3. Gunakan dompet yang kompatibel. Dompet dapat berbentuk aplikasi terpisah, ekstensi browser, atau dompet terintegrasi dengan akun game.
  4. Periksa biaya transaksi. Beberapa aktivitas membutuhkan token jaringan untuk membayar gas fee, sedangkan aplikasi tertentu dapat menanggung biayanya.
  5. Hindari pembelian besar di awal. Pelajari gameplay dan mekanisme ekonomi terlebih dahulu sebelum membeli NFT dengan nilai tinggi.

Pengembang juga mulai menyederhanakan penggunaan blockchain agar pemain tidak harus memahami seluruh proses teknis.

Sebagai contoh, Immutable Passport menyediakan sistem masuk menggunakan email atau akun sosial, dengan dompet terintegrasi dan dukungan transaksi tanpa biaya gas bagi pengguna dalam kondisi tertentu.

Pendekatan ini membuat pengalaman bermain lebih mirip game konvensional, meskipun transaksi blockchain tetap berlangsung di belakangnya.

Risiko Game Blockchain yang Perlu Diwaspadai Pemain Indonesia

Di luar pengalaman bermain, pengguna kripto di Indonesia perlu memahami beberapa risiko utama game blockchain.

Harga Token dan NFT Bisa Turun Tajam

Nilai aset digital dalam game mengikuti permintaan dan penawaran.

Token yang awalnya digunakan untuk membeli item bisa kehilangan sebagian besar nilainya jika aktivitas pemain menurun atau suplai token meningkat.

Harga NFT juga dapat turun ketika minat terhadap game melemah.

Penipuan Dompet dan Situs Palsu

Penipu dapat membuat situs yang meniru game populer, menawarkan NFT gratis, atau meminta pengguna menghubungkan dompet untuk menerima hadiah.

Dalam beberapa kasus, pengguna diarahkan menandatangani transaksi yang memberikan izin kepada kontrak berbahaya untuk memindahkan aset.

Karena itu, jangan pernah memberikan seed phrase atau private key kepada pihak yang mengaku sebagai administrator game.

Proyek Bisa Mengubah Aturan atau Berhenti Beroperasi

Pengembang dapat mengubah mekanisme reward, menyesuaikan ekonomi token, atau menghentikan dukungan terhadap fitur tertentu.

Jika game ditutup, NFT mungkin tetap tercatat pada blockchain, tetapi kegunaannya dapat berkurang drastis.

Menurut laporan DappRadar kuartal II 2025, lebih dari 300 aplikasi game blockchain yang tercatat menjadi tidak aktif selama periode tersebut.

Angka ini menunjukkan bahwa keberlangsungan proyek merupakan salah satu faktor yang perlu diperhatikan sebelum mengeluarkan uang.

Perhatikan Aturan dan Pajak di Indonesia

Sejak Januari 2025, pengaturan serta pengawasan perdagangan aset keuangan digital termasuk aset kripto di Indonesia berada di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Kerangka tersebut antara lain diatur melalui POJK Nomor 27 Tahun 2024, yang kemudian diubah melalui POJK Nomor 23 Tahun 2025.

Untuk transaksi perdagangan aset kripto, pemerintah juga memberlakukan PMK Nomor 50 Tahun 2025, yang mengatur perlakuan pajak atas transaksi terkait aset kripto sejak 1 Agustus 2025.

Namun, tidak seluruh item game atau NFT otomatis memiliki perlakuan hukum dan pajak yang sama.

Klasifikasinya bergantung pada karakteristik aset, jenis transaksi, serta ketentuan yang berlaku.

Pemain yang memperoleh penghasilan dari penjualan aset digital sebaiknya menyimpan catatan transaksi dan memahami kewajiban perpajakannya.

Masa Depan Game Blockchain, Benarkah Akan Menggantikan Game Biasa?

Perkembangan game blockchain tidak hanya berkaitan dengan token dan NFT.

Pengembang juga bereksperimen menggunakan teknologi seperti Layer-2, dompet terintegrasi, transaksi bersubsidi, serta sistem akun yang lebih sederhana.

Tujuannya adalah membuat penggunaan blockchain tidak mengganggu pengalaman bermain.

Di sisi lain, teknologi AI mulai digunakan untuk membantu pengembangan karakter, interaksi pemain, hingga pembuatan konten game.

Namun, AI tidak otomatis membuat ekonomi permainan lebih adil, dan blockchain tidak menjamin sebuah game akan sukses secara komersial.

Begitu pula dengan interoperabilitas antargame.

Memiliki NFT pada jaringan yang sama tidak berarti aset tersebut dapat langsung dipakai dalam seluruh permainan yang menggunakan blockchain tersebut.

Dukungan lintas game memerlukan kerja sama, standar teknis, dan keputusan pengembang.

Karena itu, masa depan blockchain gaming kemungkinan lebih ditentukan oleh kualitas permainan, kemudahan akses, dan manfaat yang benar-benar dirasakan pemain daripada janji keuntungan dari token.

Kesimpulan

Game blockchain menawarkan pendekatan baru dalam pengelolaan item digital.

Pemain dapat menyimpan NFT melalui dompet kripto, memeriksa perpindahan aset di blockchain, dan dalam kondisi tertentu memperdagangkan item di luar aplikasi game.

Namun, memiliki token bukan berarti memiliki seluruh hak atas karakter, game, atau teknologi yang mendukungnya.

NFT yang masih tercatat di blockchain juga belum tentu berguna apabila permainan berhenti beroperasi.

Bagi pemain Indonesia, langkah paling penting adalah memilih game berdasarkan pengalaman bermain, memahami sistem kepemilikan aset, serta memperhitungkan biaya dan risiko sebelum membeli token atau NFT.

Pada akhirnya, nilai utama sebuah game tetap terletak pada apakah permainan tersebut menarik untuk dimainkan, bukan semata-mata berapa banyak uang yang dijanjikan kepada pemain.

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.