- Binance menyelidiki dugaan insiden keamanan setelah transaksi mencurigakan senilai sekitar US$2,77 miliar terdeteksi di lima blockchain. Besarnya kerugian dan penyebab insiden belum dipastikan.
- Indodax menghentikan sementara layanan deposit dan withdrawal rupiah maupun kripto setelah mendeteksi peningkatan upaya serangan siber. Perusahaan menyatakan aset pengguna tetap aman.
- Tokocrypto memperingatkan pengguna mengenai notifikasi palsu yang meminta penarikan aset melalui situs eksternal. Insiden tersebut melibatkan layanan notifikasi pihak ketiga.
Kekhawatiran mengenai keamanan bursa kripto kembali meningkat setelah Binance dilaporkan menghadapi potensi serangan siber yang melibatkan perpindahan aset bernilai miliaran dolar AS pada Kamis (29/10/2026).
Di Indonesia, perhatian juga tertuju pada Indodax yang menghentikan sementara layanan deposit dan withdrawal, serta Tokocrypto yang sebelumnya memperingatkan pengguna mengenai notifikasi penipuan yang mengatasnamakan platformnya.
Ketiga perkembangan tersebut muncul dalam rentang waktu berdekatan, tetapi belum ada bukti bahwa insiden yang dialami Binance, Indodax, dan Tokocrypto saling berkaitan secara langsung.
Di tengah situasi tersebut, pengguna kripto diimbau lebih berhati-hati terhadap aktivitas mencurigakan, terutama pesan yang meminta pemindahan aset atau verifikasi akun melalui tautan tidak resmi.
Binance Selidiki Dugaan Peretasan, US$2,77 Miliar Berpindah di Lima Blockchain
Binance menghadapi sorotan setelah laporan aktivitas on-chain menunjukkan perpindahan aset senilai sekitar US$2,77 miliar dari sejumlah wallet yang dikaitkan dengan bursa tersebut.
Pergerakan tersebut dilaporkan berlangsung pada lima jaringan blockchain dan memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya akses tidak sah terhadap infrastruktur wallet Binance.
Namun, nilai transaksi yang terdeteksi tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah aset yang berhasil dicuri.
Perpindahan antarwallet milik bursa, transfer operasional, dan transaksi yang benar-benar tidak sah perlu dibedakan melalui pemeriksaan lebih lanjut.
Binance menyatakan sedang menyelidiki potensi masalah keamanan dan meninjau aktivitas yang dianggap mencurigakan.
Salah satu pendiri Binance, Changpeng Zhao (CZ), turut menanggapi perkembangan tersebut melalui unggahan di X pada 29 Oktober.
CZ menyatakan bahwa dana pengguna aman, tetapi mengakui bahwa aktivitas tersebut tampak seperti sebuah peretasan.
Ia juga mengapresiasi tindakan cepat penerbit stablecoin Tether dan Circle yang membekukan sejumlah aset terkait transaksi mencurigakan.
Meski demikian, CZ menegaskan bahwa dirinya tidak lagi mengelola operasional Binance.com secara langsung.
Sebagai pemegang saham, ia berharap seluruh dana pengguna yang terdampak akan mendapatkan perlindungan penuh.
Pernyataan tersebut tidak berarti penyelidikan telah selesai atau seluruh potensi kerugian berhasil dipastikan.
Menurut laporan Reuters, Binance juga melakukan pembatasan sementara terhadap sejumlah aktivitas penarikan sebagai bagian dari langkah pemeriksaan keamanan.
Perusahaan menyatakan bekerja sama dengan pihak terkait untuk melacak pergerakan aset dan meminimalkan risiko lebih lanjut.
Tether dan Circle Bekukan Stablecoin Bernilai Miliaran Dolar AS
Respons terhadap dugaan insiden Binance melibatkan dua penerbit stablecoin terbesar, yakni Tether dan Circle.
CEO Tether, Paolo Ardoino, melalui pernyataannya di X, mengungkapkan bahwa perusahaan telah membekukan lebih dari 1,567 miliar USDT yang dikaitkan dengan aktivitas mencurigakan tersebut.
Sementara itu, CEO Circle, Jeremy Allaire, mengonfirmasi pembekuan lebih dari US$800 juta dalam USDC, dengan dukungan koordinasi aparat penegak hukum.
CZ sebelumnya menyebut angka sekitar US$971 juta yang dibekukan Tether dan US$823 juta oleh Circle.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah aset yang dibekukan dapat berubah seiring perkembangan investigasi dan waktu pelaporan.
Karena itu, angka dari berbagai pernyataan tidak sebaiknya langsung dijumlahkan tanpa memastikan apakah sebagian aset yang disebut merupakan bagian dari pembekuan yang sama.
Pembekuan stablecoin dilakukan dengan membatasi kemampuan alamat tertentu untuk memindahkan token yang berada dalam kendali kontrak penerbit.
Langkah tersebut dapat mencegah aset yang diduga terkait aktivitas ilegal dipindahkan lebih jauh, tetapi tidak otomatis berarti dana telah dikembalikan kepada pemiliknya.
Selain itu, mekanisme pembekuan tidak berlaku dengan cara yang sama terhadap seluruh aset kripto, termasuk Bitcoin dan Ether yang tidak memiliki penerbit terpusat seperti USDT atau USDC.
BNB Turun Tajam, Likuidasi Pasar Kripto Meningkat
Ketidakpastian mengenai kondisi Binance turut memengaruhi sentimen pasar kripto.
Dalam laporan awal, harga BNB sempat turun sekitar 8,7 persen menuju US$680 sebelum pulih ke kisaran US$702.
Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan jual yang meningkat ketika pelaku pasar merespons kabar mengenai potensi gangguan keamanan bursa.
Sementara itu, ada likuidasi sekitar US$341,2 juta selama periode satu jam antara pukul 20.00 dan 21.00 UTC pada 29 Oktober, atau pukul 03.00–04.00 WIB pada 30 Oktober.
Menurut laporan tersebut, posisi long menyumbang 96,5 persen dari nilai likuidasi.
Namun, data likuidasi tersebut merupakan snapshot dalam periode tertentu dan belum membuktikan bahwa seluruhnya disebabkan langsung oleh berita Binance.
Pasar kripto juga dapat dipengaruhi faktor lain, termasuk kondisi likuiditas dan perubahan sentimen investor secara keseluruhan.
Besarnya potensi kerugian dari insiden Binance sendiri masih belum dapat dipastikan karena sejumlah perusahaan analitik melaporkan estimasi berbeda berdasarkan alamat dan transaksi yang mereka pantau.
Indodax Hentikan Deposit dan Withdrawal Setelah Deteksi Upaya Serangan Siber
Di Indonesia, perkembangan keamanan bursa juga menjadi perhatian setelah Indodax menghentikan sementara layanan deposit dan penarikan dana pada 29 Oktober 2026.
Pembatasan tersebut mencakup transaksi rupiah maupun aset kripto.
Berdasarkan halaman status operasional resmi Indodax, layanan deposit dan withdrawal IDR serta aset kripto tercatat berada dalam pemeliharaan pada pembaruan 29 Oktober pukul 11.30 WIB.
Sementara itu, layanan jual beli aset kripto tidak tercantum sebagai bagian dari penghentian deposit dan penarikan tersebut.
Co-founder sekaligus CEO Indodax, William Sutanto, melalui akun X miliknya, menjelaskan bahwa penghentian dilakukan sebagai langkah pengamanan setelah perusahaan mendeteksi peningkatan upaya serangan siber.
Menurut William, tim Indodax sedang mengevaluasi kondisi sistem dan melakukan mitigasi sebelum kembali membuka layanan yang terdampak.
Ia menyatakan bahwa aset anggota tetap aman dan perusahaan belum menemukan penarikan tidak sah maupun kebocoran data dalam pemeriksaan yang telah dilakukan.
Indodax juga menyampaikan bahwa pembukaan kembali deposit dan withdrawal akan dilakukan setelah keamanan sistem dipastikan.
Dengan demikian, pembatasan layanan tersebut merupakan tindakan pencegahan yang diumumkan perusahaan, bukan konfirmasi bahwa Indodax telah mengalami pencurian aset.
Hal penting lainnya, belum terdapat bukti yang menghubungkan peningkatan percobaan serangan terhadap Indodax dengan dugaan insiden keamanan Binance.
Kedua perusahaan memiliki infrastruktur dan proses keamanan masing-masing, sehingga kejadian yang berlangsung berdekatan tidak otomatis berasal dari pelaku atau kerentanan yang sama.
Bagi pengguna Indodax, status layanan perlu diperiksa melalui kanal resmi sebelum melakukan deposit atau penarikan.
Pengguna juga perlu mewaspadai pihak yang menawarkan bantuan mempercepat withdrawal dengan meminta pembayaran tambahan, kata sandi, atau kode autentikasi.
Permintaan semacam itu tidak boleh dianggap sebagai prosedur resmi tanpa verifikasi langsung melalui layanan pelanggan Indodax.
Tokocrypto Peringatkan Notifikasi Palsu yang Meminta Penarikan Aset
Sebelum perkembangan Binance dan Indodax menjadi perhatian, Tokocrypto telah mengeluarkan peringatan keamanan kepada penggunanya pada 27 Oktober 2026.
Dalam pemberitahuan resmi, Tokocrypto menyatakan bahwa sebagian pengguna menerima notifikasi tidak resmi berisi tautan menuju situs eksternal.
Notifikasi tersebut meminta pengguna melakukan penarikan aset melalui situs yang tercantum dalam pesan.
Tokocrypto menegaskan bahwa instruksi tersebut bukan berasal dari perusahaan.
Melalui pembaruan investigasi pada 27 Oktober, perusahaan menjelaskan bahwa pesan bertajuk Account Security Verification Notice dikirim melalui layanan pihak ketiga yang digunakan untuk mendukung notifikasi aplikasi.
Akses terhadap layanan yang terdampak telah diblokir guna mencegah aktivitas tidak sah lebih lanjut.
Tim Tokocrypto juga mengidentifikasi dan melaporkan alamat wallet yang diduga berkaitan dengan insiden tersebut.
Hingga pukul 17.30 WIB pada 27 Oktober, perusahaan menyatakan tidak mendeteksi penarikan aset tanpa izin yang berkaitan dengan notifikasi palsu itu.
Namun, pernyataan tersebut merupakan hasil pemeriksaan hingga waktu yang disebutkan, bukan jaminan bahwa seluruh risiko penipuan telah hilang.
Pengguna Diminta Tidak Mengklik Tautan atau Menghubungkan Wallet
Dalam peringatannya, Tokocrypto meminta pengguna agar tidak membuka tautan mencurigakan, menghubungkan wallet, atau memasukkan informasi akun melalui situs yang disertakan dalam notifikasi.
Perusahaan juga menegaskan bahwa Tokocrypto tidak pernah meminta password, OTP, maupun kode autentikasi dua faktor atau 2FA melalui tautan di luar aplikasi dan situs resminya.
Jika pengguna sudah terlanjur membuka atau berinteraksi dengan notifikasi tersebut, Tokocrypto menyarankan penggantian password, pemeriksaan ulang pengaturan 2FA, dan menghubungi layanan pelanggan resmi.
Modus seperti ini dikenal sebagai phishing, yaitu upaya mengelabui pengguna agar menyerahkan informasi sensitif atau memberikan akses terhadap aset mereka.
Ancaman tersebut tidak selalu membutuhkan peretasan langsung terhadap sistem penyimpanan dana bursa.
Penipu juga dapat memanfaatkan notifikasi, situs tiruan, dan komunikasi palsu untuk membuat pengguna sendiri melakukan tindakan yang membahayakan akunnya.
Sebelumnya, Coin Edition Indonesia juga membahas modus aplikasi kripto palsu yang berupaya mendapatkan akses ke dompet pengguna melalui penyamaran layanan resmi.
Insiden Tokocrypto memperlihatkan mengapa asal pesan dan keaslian tautan tetap perlu diperiksa, sekalipun notifikasi tampak berkaitan dengan aplikasi yang digunakan pengguna.
Keamanan Bursa Kripto Jadi Sorotan, Apa yang Perlu Diperhatikan?
Perkembangan yang melibatkan Binance, Indodax, dan Tokocrypto menunjukkan tiga bentuk risiko keamanan yang perlu dibedakan.
Binance sedang menyelidiki dugaan aktivitas wallet tidak sah yang melibatkan aset bernilai besar. Indodax menghentikan sementara deposit dan withdrawal sebagai tindakan pencegahan terhadap peningkatan upaya serangan siber. Sementara itu, Tokocrypto menghadapi penyalahgunaan sistem notifikasi pihak ketiga untuk menyebarkan pesan penipuan.
Ketiganya tidak dapat disimpulkan sebagai satu rangkaian serangan tanpa bukti teknis yang mendukung.
Bagi pengguna, langkah terpenting adalah memeriksa pembaruan dari kanal resmi masing-masing bursa dan menghindari keputusan terburu-buru berdasarkan pesan yang beredar di media sosial.
Terlebih lagi, penipu dapat memanfaatkan situasi ketika pengguna khawatir terhadap keamanan aset atau tidak dapat melakukan penarikan.
Pesan yang mengklaim adanya prosedur darurat, pemindahan dana ke wallet tertentu, atau verifikasi tambahan melalui tautan eksternal perlu diperlakukan dengan sangat hati-hati.
Pengguna juga sebaiknya tidak pernah membagikan password, kode OTP, kode 2FA, maupun seed phrase kepada siapa pun.
Hingga informasi yang tersedia pada Jumat pagi, 30 Oktober 2026, investigasi Binance masih berlangsung, Indodax telah mengumumkan penghentian sementara layanan deposit dan withdrawal, sedangkan Tokocrypto telah memblokir akses layanan notifikasi pihak ketiga yang terdampak.
Keputusan mengenai kapan layanan dibuka kembali dan apakah terdapat dampak lanjutan perlu mengikuti pengumuman resmi masing-masing perusahaan.
Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.