Mining Bitcoin di Rumah Masih Menguntungkan? Ini Hitungan Biaya Listrik PLN

Last Updated:
Mining Bitcoin di Rumah, Masih Untung Pakai Listrik PLN
Google News

Get our latest news first. Add us as your Preferred Source on Google and tap "Star" to prioritize our updates.

  • Mining Bitcoin dengan listrik PLN membuat Antminer S21 nyaris impas.
  • Antminer S23 masih mencatat surplus sekitar Rp79.500 per hari sebelum biaya tambahan.
  • Harga mesin dan biaya operasional menentukan keuntungan sebenarnya dari mining Bitcoin.

Menambang Bitcoin atau mining Bitcoin menggunakan listrik rumah tangga di Indonesia belum tentu menghasilkan keuntungan, meskipun harga BTC saat ini berada di kisaran US$83.750. Perhitungan independen Coin Edition Indonesia pada Senin, 12 Oktober 2026, menemukan bahwa satu mesin Antminer S21 berpotensi menghabiskan biaya listrik hampir sebesar seluruh pendapatan Bitcoin yang dihasilkannya.

Namun, hasil berbeda muncul pada Antminer S23 yang memiliki efisiensi energi lebih tinggi. Dengan asumsi operasi nonstop menggunakan tarif listrik rumah tangga PLN Rp1.699,53 per kWh, S23 diperkirakan menyisakan sekitar Rp79.500 per hari setelah biaya listrik, tetapi sebelum memperhitungkan harga perangkat dan biaya operasional lainnya.

Temuan ini diperoleh dengan membandingkan spesifikasi resmi produsen, kondisi jaringan Bitcoin, harga BTC, kurs Bank Indonesia, serta tarif listrik yang menjadi acuan perhitungan. Simulasi tersebut tidak melibatkan pengoperasian mesin secara langsung dan bukan proyeksi keuntungan yang dijamin.

Biaya Listrik Mining Bitcoin Bisa Tembus Rp4,28 Juta Sebulan

Berdasarkan katalog resmi Bitmain, Antminer S21 mempunyai kemampuan komputasi atau hashrate sebesar 200 terahash per detik (TH/s), dengan konsumsi listrik nominal 3.500 watt dan efisiensi energi 17,5 joule per terahash (J/TH).

Jika beroperasi selama 24 jam penuh, perangkat tersebut mengonsumsi sekitar 84 kilowatt-jam (kWh) listrik per hari atau 2.520 kWh selama 30 hari.

Sebagai dasar perhitungan, Coin Edition Indonesia menggunakan tarif Rp1.699,53 per kWh untuk pelanggan rumah tangga nonsubsidi golongan R-2 berdaya 3.500–5.500 VA maupun R-3 dengan daya 6.600 VA ke atas, sebagaimana tercantum dalam publikasi tarif PLN.

Pemerintah melalui Kementerian ESDM pada 30 Juni 2026 mempertahankan tarif listrik untuk periode Juli–September 2026. Angka Rp1.699,53 digunakan sebagai tarif acuan simulasi karena penetapan baru triwulan IV belum berhasil diverifikasi dalam penelusuran ini, sehingga bukan klaim bahwa tarif tersebut sudah ditetapkan kembali untuk Oktober–Desember.

Dengan tarif acuan tersebut, satu S21 membutuhkan biaya listrik sekitar Rp142.761 sehari atau Rp4,28 juta selama 30 hari.

Sementara itu, dashboard jaringan Bitcoin mempool.space menunjukkan tingkat kesulitan penambangan sebesar 132,72 triliun, berdasarkan penyesuaian terakhir pada 3 Oktober 2026. Angka kesulitan tersebut digunakan untuk memperkirakan kemampuan satu perangkat memperoleh bagian imbalan blok Bitcoin.

Dengan hashrate 200 TH/s dan subsidi blok 3,125 BTC, S21 secara matematis diperkirakan menghasilkan sekitar 0,0000947 BTC per hari apabila terus beroperasi dalam kondisi jaringan yang diasumsikan tetap.

Menggunakan harga BTC sekitar US$83.750 berdasarkan data pasar CoinMarketCap pada 12 Oktober 2026 serta kurs tengah Rp17.884 per dolar AS yang dihitung dari kurs transaksi Bank Indonesia, estimasi pendapatan kotor mesin tersebut mencapai sekitar Rp141.888 sehari.

Artinya, pendapatan dari subsidi blok saja masih lebih rendah sekitar Rp872 dibandingkan biaya listrik harian. Dalam simulasi 30 hari, selisih negatifnya mencapai sekitar Rp26.000.

Perhitungan itu belum mencakup biaya mining pool, pendinginan tambahan, perawatan perangkat, pajak yang mungkin berlaku, dan penyusutan mesin. Di sisi lain, estimasi pendapatan juga belum memasukkan biaya transaksi jaringan yang turut diterima penambang bersama subsidi blok.

Karena selisihnya sangat tipis, perubahan kecil pada harga Bitcoin, kesulitan jaringan, biaya transaksi, atau performa mesin dapat mengubah hasilnya dari negatif menjadi positif maupun sebaliknya. Dengan demikian, angka tersebut lebih tepat dibaca sebagai kondisi nyaris impas untuk listrik, bukan kerugian pasti.

Mesin Lebih Efisien Masih Positif, tetapi Berapa Lama Balik Modal?

Hasil berbeda terlihat ketika Coin Edition Indonesia menerapkan metode perhitungan yang sama pada Antminer S23.

Perangkat generasi berikutnya ini mempunyai hashrate nominal 305 TH/s dan konsumsi listrik 3.355 watt, dengan efisiensi energi 11 J/TH. Dengan kata lain, kapasitas komputasinya lebih tinggi daripada S21, meskipun konsumsi listrik nominalnya sedikit lebih rendah.

Menggunakan tingkat kesulitan jaringan 132,72 triliun, S23 diperkirakan menghasilkan sekitar 0,0001445 BTC sehari dari subsidi blok, setara Rp216.380 pada asumsi harga BTC dan kurs yang sama.

Konsumsi listriknya sekitar 80,52 kWh per hari, sehingga biaya listrik harian diperkirakan mencapai Rp136.846. Selisih antara pendapatan kotor dan biaya listrik menjadi sekitar Rp79.534 sehari atau Rp2,39 juta dalam 30 hari.

Namun, angka tersebut belum mencerminkan keuntungan bersih penambang.

Dalam katalog produsen yang diperiksa, Antminer S23 tercantum dengan harga US$9.150 per unit dan berstatus sold out. Menggunakan kurs tengah BI yang sama, harga daftar itu setara sekitar Rp163,64 juta, belum termasuk pengiriman, impor, instalasi, maupun pengeluaran tambahan lainnya. Harga katalog bukan berarti perangkat tersedia untuk dibeli pada harga tersebut di Indonesia.

Apabila harga perangkat dan selisih pendapatan setelah listrik diasumsikan tidak berubah, pengembalian modal secara matematis membutuhkan sekitar 2.057 hari atau 5,6 tahun.

Perhitungan sederhana tersebut bahkan belum memperhitungkan mining pool, pendinginan, waktu perangkat tidak beroperasi, kerusakan, perubahan kesulitan penambangan, dan perubahan harga Bitcoin. Karena itu, angka 5,6 tahun bukan prediksi waktu balik modal sebenarnya.

Ada pula persoalan praktis bagi calon penambang rumahan. Konsumsi daya mesin di kisaran 3.300–3.500 watt membutuhkan instalasi listrik yang memadai dan kemampuan mengelola panas secara terus-menerus. Sambungan rumah tangga 3.500 VA tidak boleh langsung dianggap mampu menjalankan perangkat 3.500 watt bersamaan dengan kebutuhan listrik rumah lainnya.

Spesifikasi daya terpasang dalam volt-ampere (VA) juga tidak identik dengan konsumsi aktif dalam watt. Kondisi instalasi, karakteristik beban, sirkuit pengaman, dan perangkat listrik lain perlu diperiksa sebelum mesin dijalankan.

Selain itu, angka hashrate dan konsumsi energi pada spesifikasi produsen merupakan nilai nominal. Kinerja aktual dapat berubah akibat suhu lingkungan, ventilasi, kondisi perangkat, dan konfigurasi operasional.

Perbandingan ini memperlihatkan bahwa profitabilitas mining Bitcoin di Indonesia tidak dapat ditentukan hanya dari harga BTC ataupun tarif listrik. Efisiensi perangkat, harga pembelian, biaya pendukung, serta perubahan persaingan di jaringan Bitcoin ikut menentukan apakah operasi penambangan mampu menghasilkan pengembalian investasi.

Bagi masyarakat yang mempertimbangkan pembelian mesin mining Bitcoin, hasil simulasi ini menunjukkan perlunya membedakan tiga angka, yakni pendapatan BTC secara kotor, selisih pendapatan setelah biaya listrik, dan keuntungan bersih setelah seluruh modal serta biaya operasional diperhitungkan.

Dalam kondisi yang kami uji, Antminer S21 berada sangat dekat titik impas biaya listrik, sementara S23 masih mempunyai margin operasional awal. Namun, margin positif tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa investasi mesin mining baru akan menguntungkan dalam jangka panjang.

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.