Harga BTC Anjlok ke US$81.000, Inflasi AS Bikin Bursa Asia Berdarah

Last Updated:
Harga BTC turun ke US$81.000 setelah inflasi AS meningkat dan indeks Nikkei serta KOSPI anjlok.
Google News

Get our latest news first. Add us as your Preferred Source on Google and tap "Star" to prioritize our updates.

  • Harga BTC sempat turun di bawah US$81.000 setelah inflasi AS mencapai 3,7 persen, melampaui perkiraan pasar.
  • Indeks KOSPI anjlok sekitar 8 persen dan Nikkei merosot hingga 5,3 persen di tengah aksi jual saham teknologi.
  • Bitcoin menghadapi support US$80.000 dan US$77.000, sementara prospek suku bunga The Fed masih membayangi pasar.

Harga Bitcoin (BTC) sempat merosot di bawah US$81.000 pada Kamis (15/10/2026), ketika aksi jual saham teknologi meluas dari Wall Street ke pasar Asia. Penurunan tersebut terjadi setelah inflasi Amerika Serikat (AS) melampaui perkiraan, meningkatkan kekhawatiran terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Tekanan juga menghantam indeks Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan. Pelemahan serentak ini menunjukkan investor sedang mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto, meskipun dolar AS turut melemah.

Inflasi AS 3,7 Persen Hantam Saham Teknologi Asia

Menurut laporan resmi Bureau of Labor Statistics, inflasi konsumen AS mencapai 3,7 persen secara tahunan pada September 2026, melampaui proyeksi 3,6 persen dan naik dari 3,4 persen pada Agustus.

Harga bensin melonjak 9,1 persen secara bulanan, menyumbang lebih dari separuh kenaikan indeks harga konsumen. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memperbesar tekanan pada biaya energi.

Mengutip laporan Reuters mengenai aksi jual pasar global, Nasdaq sebelumnya turun sekitar 1,9 persen dan S&P 500 melemah 1,1 persen. Tekanan kemudian merambat ke Asia, dengan Nikkei merosot sekitar 5 persen dan KOSPI hampir 8 persen.

Saham semikonduktor ikut terpukul. SK Hynix kehilangan lebih dari 11 persen, sementara Samsung Electronics turun hampir 10 persen. Investor mulai mempertanyakan valuasi tinggi perusahaan teknologi dan keberlanjutan investasi kecerdasan buatan (AI).

Di tengah aksi jual, TSMC justru melaporkan laba kuartal III melonjak 69 persen, melampaui ekspektasi pasar.

Harga BTC Terancam Uji US$77.000?

Pelemahan Bitcoin berlangsung meskipun dolar AS turun dan imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut menyusut. Kondisi ini mengindikasikan kekhawatiran terhadap risiko makroekonomi lebih dominan daripada potensi dukungan dari pelemahan dolar.

Laporan CE Global juga mencatat likuidasi pasar kripto melampaui US$951 juta, sementara BTC sempat bergerak dari kisaran US$83.000–US$84.000 menuju US$81.700.

Setelah data inflasi dirilis, peluang kenaikan suku bunga The Fed sempat mendekati 50 persen. Namun, pembaruan Reuters pada 15 Oktober menunjukkan probabilitas tersebut kembali turun menjadi sekitar 25 persen, dengan peluang suku bunga dipertahankan mencapai 75 persen.

Investor sebelumnya telah mengantisipasi volatilitas ini, sebagaimana dibahas dalam laporan Coin Edition Indonesia mengenai CPI AS dan agenda The Fed.

Kini, level US$80.000 menjadi support penting yang perlu dipertahankan BTC. Jika ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju US$77.000. Sebaliknya, pemulihan di atas US$84.000 dapat mengurangi tekanan bearish jangka pendek.

Level US$77.000 juga sebelumnya disoroti dalam analisis Bitcoin saat whale mengakumulasi 16.010 BTC.

Arah harga berikutnya akan dipengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed, sentimen saham teknologi, dan kemampuan pembeli mempertahankan support psikologis US$80.000.

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.