IHSG Anjlok 5,1 Persen, Ancaman MSCI Picu Aksi Jual

Last Updated:
IHSG Anjlok 5,1 Persen, MSCI Ancam Status Indonesia
Google News

Get our latest news first. Add us as your Preferred Source on Google and tap "Star" to prioritize our updates.

  • IHSG sempat merosot 5,1 persen ke level terendah enam tahun akibat kekhawatiran terkait MSCI.
  • UBS memperkirakan risiko arus keluar dana pasif US$4 miliar jika Indonesia kehilangan status Emerging Market.
  • BEI memangkas batas penurunan harian saham menjadi 7 persen, sementara rupiah melemah melewati Rp18.040 per dolar.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan pada Senin, 19 Oktober 2026, setelah MSCI mengusulkan penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia. IHSG sempat merosot sekitar 5,1 persen ke 4.921,74, level terendah dalam enam tahun, dan menembus batas psikologis 5.000 poin.

Pada akhir sesi pertama, IDXChannel mencatat IHSG turun 5,05 persen ke 4.923,26. Pelemahan menyusul anjloknya indeks sebesar 11,57 persen pada Jumat, 16 Oktober, penurunan harian terdalam sejak krisis Asia 1998.

Aksi jual selama dua sesi menghapus nilai pasar hampir US$90 miliar. Sementara itu, Reuters mencatat sekitar US$65 miliar hilang pada perdagangan Jumat saja.

MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Saham Indonesia

Dalam pengumuman resmi pada 15 Oktober, MSCI membuka konsultasi untuk mengubah klasifikasi indeks saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, melewati kategori Frontier Market.

MSCI menyoroti kepemilikan saham yang belum transparan, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta terbatasnya bukti penegakan aturan yang berdampak nyata. Penyedia indeks itu mengakui adanya reformasi, tetapi menilai perbaikannya belum diterapkan secara konsisten.

Jika perubahan status berlaku, saham Indonesia berpotensi dikeluarkan dari indeks global yang digunakan banyak dana investasi pasif. Namun, penurunan klasifikasi belum diputuskan. Masa konsultasi berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan paling lambat 30 Juni 2027.

Risiko arus modal keluar menjadi perhatian. UBS memperkirakan potensi penarikan dana pasif sekitar US$4 miliar, disertai kemungkinan keluarnya investasi aktif hingga US$15 miliar.

Goldman Sachs secara terpisah memperkirakan arus keluar pasif sebesar US$5,6 miliar. Semua angka tersebut merupakan skenario analis, bukan penarikan dana yang sudah terjadi.

Gejolak MSCI sebelumnya juga dibahas Coin Edition Indonesia melalui pergerakan saham induk Bursa Kripto CFX dan indeks CFX10. Meski demikian, perubahan harga saham tidak otomatis mencerminkan kinerja pasar kripto.

BEI Perketat Batas Penurunan Saham, Rupiah Melemah

Merespons gejolak pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) memangkas batas auto rejection bawah (ARB) saham menjadi 7 persen pada Senin. Kebijakan ini membatasi penurunan harga saham individual dalam perdagangan, bukan batas penurunan IHSG secara keseluruhan.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik juga menyampaikan rencana pembicaraan dengan MSCI untuk meminta penjelasan atas proposal tersebut.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelumnya menegaskan komitmen melanjutkan reformasi transparansi kepemilikan dan tata kelola pasar modal. Regulator juga menjatuhkan denda total sekitar Rp2,1 triliun kepada pihak-pihak terkait dugaan manipulasi pasar.

Tekanan turut terasa pada rupiah yang melemah melewati Rp18.040 per dolar AS. Harga minyak di atas US$110 per barel menjadi risiko tambahan bagi Indonesia sebagai pengimpor bersih minyak, terutama melalui biaya energi dan inflasi.

Gejolak juga meluas di Asia. Nikkei Jepang sempat turun sekitar 2 persen pada pembukaan Senin, sedangkan KOSPI Korea Selatan kehilangan 14,46 persen sepanjang pekan sebelumnya.

Perhatian investor kini tertuju pada stabilisasi perdagangan, respons otoritas, serta bukti perbaikan tata kelola pasar sebelum MSCI mengambil keputusan tahun depan.

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.