- CSOH menemukan lebih dari 220 akun X yang diduga terlibat dalam penipuan finansial atau modus penipuan seksual.
- Sejumlah akun memanfaatkan konten anti-Muslim dan identitas tokoh politik AS untuk menarik pengikut sebelum menawarkan investasi.
- Penipu mengarahkan pengguna membeli XRP dan XLM melalui klaim palsu tentang keruntuhan bank dan sistem keuangan baru.
Penipuan XRP dan XLM menjadi sorotan setelah peneliti menemukan jaringan akun X mencurigakan yang menggunakan konten kebencian anti-Muslim untuk menarik perhatian pengguna sebelum mempromosikan investasi kripto.
Investigasi Center for the Study of Organized Hate (CSOH), yang dipublikasikan CNN pada 3 November 2026, mengidentifikasi lebih dari 220 akun yang menunjukkan indikasi penipuan finansial maupun modus penipuan seksual.
Sebagian akun awalnya mengunggah konten politik provokatif, kemudian beralih menyebarkan peringatan mengenai dugaan kehancuran sistem perbankan dan perubahan besar dalam sistem keuangan global.
Pengikut yang mempercayai narasi tersebut selanjutnya diarahkan menuju percakapan pribadi di Telegram, tempat penipu memperkenalkan skema investasi yang melibatkan XRP dan Stellar (XLM).
Akun X Sebarkan Konten Anti-Muslim untuk Menarik Pengikut
Menurut penelitian CSOH, aktivitas mencurigakan mulai terlihat pada September 2026, ketika perhatian publik Amerika Serikat meningkat menjelang pemilu sela.
Sejumlah akun mengunggah gambar buatan kecerdasan buatan (AI) disertai pesan anti-Muslim yang sengaja dirancang untuk memancing kemarahan dan perdebatan.
Beberapa unggahan memperoleh ribuan komentar dan puluhan ribu tayangan.
Peneliti menemukan bahwa sejumlah akun menggunakan nama yang menyerupai Presiden Donald Trump, anggota keluarganya, serta Wakil Presiden JD Vance.
Namun, tidak ada bukti bahwa tokoh-tokoh tersebut memiliki hubungan dengan akun yang diperiksa.
Akun lain menyamar sebagai pejabat pemerintah, media berita, atau menggunakan identitas politik yang berkaitan dengan gerakan MAGA dan QAnon.
Strateginya bukan langsung menawarkan investasi kripto.
Pelaku terlebih dahulu membangun audiens melalui konten politik dan keagamaan yang memicu reaksi emosional.
Setelah memperoleh perhatian dan pengikut, mereka mulai menyebarkan narasi tentang krisis perbankan, kehancuran pasar saham, atau perubahan sistem keuangan yang disebut akan segera terjadi.
Pesan tersebut kemudian digunakan untuk meyakinkan pengguna bahwa mereka harus memindahkan uang sebelum terlambat.
Peneliti CSOH, Meriem Mahdhi, menjelaskan bahwa kemarahan publik dimanfaatkan untuk meningkatkan jangkauan akun, sebelum pengikut diarahkan menuju penawaran investasi palsu dan percakapan Telegram.
Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana konten kebencian dapat dijadikan alat untuk membangun kepercayaan yang kemudian disalahgunakan dalam penipuan finansial.
Akun Trump Palsu Arahkan Korban Membeli XRP dan XLM
Salah satu akun yang diteliti menggunakan nama Trump Account.
Awalnya, akun tersebut secara konsisten membagikan konten pendukung Trump dan pesan anti-Muslim.
Namun, setelah memperoleh ribuan pengikut, akun itu mulai mempromosikan konsep Quantum Financial System (QFS), sebuah narasi konspirasi tentang perubahan sistem moneter global.
Direktur Eksekutif CSOH, Raqib Naik, kemudian menghubungi pengelola akun tersebut melalui Telegram untuk mengetahui bagaimana penawaran investasinya bekerja.
Menurut hasil investigasi yang dilaporkan CNN, pengelola akun mengaku memiliki hubungan dekat dengan pemerintahan Trump.
Pelaku kemudian memperingatkan Naik bahwa sistem perbankan dan pasar saham akan segera mengalami kehancuran.
Dalam percakapan berikutnya, akun tersebut mengklaim hampir seluruh mata uang akan kehilangan nilainya, kecuali XRP dan XLM.
Naik kemudian diarahkan memindahkan uangnya ke kedua aset kripto tersebut serta mengunjungi situs untuk membuka rekening baru.
Namun, klaim mengenai keruntuhan bank, penghapusan mata uang, maupun penggunaan XRP dan XLM sebagai satu-satunya aset yang akan bertahan tidak memiliki dasar yang dapat diverifikasi.
Pernyataan tersebut merupakan bagian dari narasi yang digunakan akun mencurigakan untuk menekan calon korban agar segera mengambil keputusan finansial.
CSOH juga menemukan pola serupa pada akun yang menyamar sebagai anggota keluarga Trump.
Meski demikian, penelitian tersebut belum mengungkap jumlah kerugian finansial yang ditimbulkan maupun identitas sebenarnya dari seluruh pengelola akun.
Lebih dari 220 akun yang teridentifikasi juga tidak semuanya terbukti mempromosikan XRP atau XLM. Angka tersebut mencakup beberapa kategori dugaan penipuan yang ditemukan peneliti.
XRP dan XLM Bukan Aset Penipuan
Penting untuk membedakan penggunaan nama aset kripto dalam sebuah penipuan dengan karakteristik aset itu sendiri.
XRP merupakan aset kripto pada XRP Ledger, sedangkan XLM adalah token asli jaringan Stellar.
Keduanya memiliki jaringan blockchain dan penggunaan yang sah dalam ekosistem aset digital.
Karena itu, keterlibatan XRP dan XLM dalam narasi akun palsu tidak berarti kedua aset tersebut merupakan produk penipuan.
Dalam kasus yang diselidiki CSOH, dugaan penipuannya terletak pada penyamaran identitas, penyebaran informasi finansial palsu, serta upaya mengarahkan pengguna menuju situs atau rekening yang tidak dapat dipercaya.
Modus seperti ini juga berbeda dari penipuan yang secara langsung meminta korban menghubungkan dompet ke aplikasi berbahaya.
Sebelumnya, Coin Edition Indonesia melaporkan peringatan terhadap akun palsu yang menargetkan pengguna dompet XRP Xaman, termasuk penawaran airdrop palsu melalui media sosial.
Kedua kasus tersebut menunjukkan bahwa reputasi aset dan tokoh terkenal sering dimanfaatkan untuk meyakinkan pengguna agar mengikuti instruksi yang tidak berasal dari sumber resmi.
Cara Mengenali Penipuan Investasi Kripto di X dan Telegram
Menurut panduan resmi Federal Trade Commission (FTC), penipuan investasi kripto kerap dimulai melalui pesan pribadi di media sosial.
Pelaku biasanya mengaku memiliki informasi khusus, menjanjikan keuntungan, atau menyatakan bahwa korban harus segera memindahkan aset untuk menghindari kerugian.
Ada sejumlah tanda bahaya yang perlu diperhatikan:
- Identitas tokoh terkenal: Akun menggunakan nama atau foto pejabat, selebritas, atau perusahaan tanpa bukti hubungan resmi.
- Ancaman krisis mendadak: Pelaku mengklaim bank akan tutup atau mata uang segera kehilangan nilai untuk menciptakan kepanikan.
- Ajakan pindah ke Telegram: Pengguna diarahkan meninggalkan percakapan publik untuk menerima instruksi investasi secara pribadi.
- Tautan situs mencurigakan: Calon investor diminta mendaftar pada platform yang tidak dikenal atau mengirimkan aset ke alamat tertentu.
- Janji keuntungan atau akses khusus: Penawaran diklaim hanya tersedia bagi kelompok tertentu atau berdasarkan informasi rahasia.
Bagi pengguna Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengingatkan masyarakat untuk memeriksa legalitas pihak yang menawarkan investasi dan tidak mudah mempercayai pesan pribadi maupun tautan yang tidak jelas sumbernya.
Pengguna sebaiknya memverifikasi identitas pihak yang menawarkan investasi melalui kanal resmi, bukan sekadar melihat nama akun, jumlah pengikut, atau tanda verifikasi media sosial.
Jika seseorang mengklaim memperoleh informasi rahasia mengenai kebijakan pemerintah atau perubahan sistem keuangan, pernyataan tersebut harus diperiksa melalui sumber resmi sebelum mengambil keputusan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Sudah Mengirim Kripto?
Korban yang telanjur mengirimkan aset perlu segera menyimpan bukti percakapan, alamat dompet tujuan, identitas akun, serta hash transaksi blockchain.
Apabila transfer berasal dari bursa kripto, pengguna dapat menghubungi layanan pelanggan resmi untuk melaporkan transaksi tersebut.
Namun, transaksi blockchain yang sudah terkonfirmasi umumnya tidak dapat dibatalkan secara sepihak.
Di Indonesia, indikasi investasi ilegal dapat dilaporkan melalui Satgas PASTI, sedangkan korban penipuan transaksi keuangan dapat menggunakan kanal Indonesia Anti-Scam Centre sesuai cakupan layanan pelaporan.
Korban juga perlu mewaspadai pihak yang menawarkan jasa pemulihan aset dengan meminta pembayaran di muka.
FTC memperingatkan bahwa pelaku penipuan sering kembali menargetkan korban melalui janji pengembalian dana yang sebenarnya merupakan modus penipuan lanjutan.
Temuan CSOH menunjukkan bahwa ancaman terhadap investor kripto tidak selalu dimulai dengan promosi token atau janji keuntungan.
Konten politik provokatif dan informasi finansial yang menakutkan juga dapat menjadi tahap awal untuk membawa pengguna menuju penipuan investasi.
Karena itu, pengguna perlu mewaspadai bukan hanya aset yang ditawarkan, tetapi juga identitas pemberi informasi, cara mereka membangun kepercayaan, dan tujuan akhir dari instruksi yang diberikan.
Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.