- Prediksi harga XRP masih bearish di bawah US$1,37, dengan target US$1,43 jika resistance ditembus.
- Outflow whale XRP dari Binance mencapai level terendah lima tahun, menurut analis CryptoQuant Darkfost.
- Ripple mendukung proposal Regulation Crypto Assets SEC untuk memperjelas aturan sekuritas dan kontrak investasi kripto.
Prediksi harga XRP untuk Kamis, 22 Oktober 2026, masih menunjukkan kecenderungan bearish selama token tersebut diperdagangkan di bawah resistance US$1,37. Level ini menjadi hambatan utama setelah XRP berusaha pulih dari titik terendah terbaru dan kembali mendekati garis tren naik yang sebelumnya ditembus.
Harga XRP bergerak di sekitar US$1,34 pada perdagangan Rabu (21/10/2026), menguat 0,76 persen secara harian. Namun, pemulihan tersebut masih menghadapi sejumlah indikator teknikal yang berkumpul pada rentang US$1,35–US$1,37.
Di tengah upaya pemulihan harga, data on-chain menunjukkan aktivitas akumulasi whale XRP di Binance telah melemah hingga level terendah dalam lima tahun. Sementara itu, Ripple menyampaikan dukungan terhadap proposal regulasi aset kripto dari Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat.
Kombinasi perkembangan teknikal, aktivitas whale, dan regulasi tersebut menjadi perhatian pasar menjelang perdagangan 22 Oktober.
Analisis Harga XRP: Resistance US$1,37 Jadi Penentu Pemulihan
Berdasarkan grafik XRP/USD di TradingView, harga XRP tengah berupaya melanjutkan rebound dari posisi terendah sebelumnya.
Namun, pembeli menghadapi dua area resistance berdekatan yang perlu ditembus sebelum pemulihan dapat berkembang menjadi kenaikan lebih kuat.
Hambatan pertama berada di sekitar US$1,35, yang bertepatan dengan level Fibonacci retracement 0,5.
Sementara itu, resistance berikutnya terletak pada US$1,37, tempat exponential moving average (EMA) 20 hari, 50 hari, dan 200 hari berkumpul bersama indikator Parabolic SAR.
Konsentrasi sejumlah indikator pada level yang sama menjadikan area US$1,37 sebagai zona teknikal penting. Harga perlu menembus resistance tersebut untuk menunjukkan bahwa tekanan beli mulai mampu mengatasi dominasi penjual.
Penutupan harian yang meyakinkan di atas US$1,37 dapat memperkuat prospek pemulihan dan membuka peluang kenaikan menuju US$1,43, yang bertepatan dengan Fibonacci retracement 0,382.
Jika momentum pembelian terus meningkat, target lanjutan berada di sekitar US$1,53 pada Fibonacci retracement 0,236.
Meski demikian, penembusan satu level resistance belum cukup untuk memastikan pembalikan tren yang berkelanjutan.
Sebelumnya, XRP kehilangan garis tren naik yang terbentuk dari titik terendah Agustus. Garis tersebut sempat menopang pergerakan harga selama beberapa bulan sebelum ditembus ke bawah pada awal Oktober.
Pemulihan terbaru membawa XRP kembali mendekati garis tren tersebut. Namun, karena sebelumnya telah terjadi breakdown, XRP kini harus merebut kembali area itu untuk membuktikan bahwa pembeli mulai mendapatkan kendali.
Apabila harga gagal menembus resistance US$1,37, pergerakan naik saat ini masih berisiko menjadi rebound sementara sebelum tekanan jual kembali meningkat.
Di sisi bawah, EMA 100 hari pada kisaran US$1,34 menjadi support langsung yang perlu dipertahankan.
Level tersebut berada dekat harga pasar saat analisis disusun, sehingga perubahan kecil dalam tekanan beli maupun jual dapat menentukan arah pergerakan berikutnya.
Jika XRP mencatatkan penutupan harian di bawah US$1,34, harga berpotensi kembali menguji US$1,27, yang bertepatan dengan Fibonacci retracement 0,618.
Area US$1,27 juga berada dekat titik terendah yang menjadi dasar rebound terbaru.
Penurunan lebih dalam dapat membuka risiko pengujian level Fibonacci retracement 0,786 di US$1,15 apabila pembeli gagal mempertahankan support sebelumnya.
Sebagai konteks, analisis XRP pada 17 Oktober di CE Indonesia juga telah menyoroti pentingnya EMA 100 hari di sekitar US$1,34 setelah harga kehilangan garis tren naik.
Dengan demikian, kemampuan menembus US$1,37 menjadi ujian terpenting menjelang 22 Oktober, sementara US$1,34 berperan sebagai batas awal untuk mempertahankan peluang rebound.
Level support dan resistance XRP per 21 Oktober 2026:
| Jenis | Harga | Dasar teknikal |
|---|---|---|
| Resistance | US$1,35 | Fibonacci 0,5 |
| Resistance | US$1,37 | EMA 20, 50, 200 hari dan Parabolic SAR |
| Resistance | US$1,43 | Fibonacci 0,382 |
| Support | US$1,34 | EMA 100 hari |
| Support | US$1,27 | Fibonacci 0,618 |
| Support | US$1,15 | Fibonacci 0,786 |
Outflow Whale XRP di Binance Capai Terendah Lima Tahun
Selain kondisi teknikal, aktivitas investor besar atau whale XRP juga menunjukkan perubahan signifikan.
Dalam analisis on-chain terbaru di CryptoQuant, analis Darkfost mengungkapkan bahwa rata-rata pergerakan 90 hari outflow XRP dari whale di Binance telah turun menjadi sekitar US$49,7 juta.
Angka tersebut merupakan level terendah dalam lima tahun, setara dengan kondisi Oktober 2021 ketika siklus Bitcoin sebelumnya mendekati puncaknya.
Outflow whale mengukur penarikan XRP dalam jumlah besar dari bursa. Aktivitas ini sering digunakan untuk mengamati kemungkinan akumulasi, karena investor yang memindahkan aset ke dompet pribadi dapat memiliki kecenderungan menyimpannya dalam jangka lebih panjang.
Namun, tidak semua penarikan dari bursa merupakan pembelian baru. Sebagian transaksi juga dapat mencerminkan pemindahan aset atau perubahan pengelolaan dompet.
Menurut Darkfost, melemahnya outflow dalam jangka panjang menunjukkan berkurangnya aktivitas penarikan besar yang sebelumnya berkaitan dengan akumulasi whale.
Perbandingan dengan Februari 2025 memperlihatkan perubahan yang cukup mencolok.
Pada periode tersebut, rata-rata outflow whale XRP dari Binance dalam 90 hari mencapai sekitar US$3,5 miliar, ketika XRP berada dekat puncak siklusnya di kisaran US$3,30.
Saat itu, aktivitas penarikan besar menunjukkan partisipasi investor bermodal besar yang jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi terbaru.
Namun, sejak puncak tersebut, tren outflow whale terus menurun hingga mencapai US$49,7 juta.
Perubahan ini menunjukkan bahwa aktivitas penarikan whale telah menyusut secara drastis dibandingkan periode spekulasi sebelumnya.
Darkfost memperkirakan sebagian investor besar kemungkinan sedang menunggu harga yang lebih menarik sebelum kembali meningkatkan aktivitas akumulasi.
Menurutnya, ketahanan harga XRP selama fase pasar bearish juga dapat menjadi salah satu penyebab lemahnya aktivitas whale.
Harga XRP dinilai belum turun ke wilayah yang cukup menarik untuk memicu akumulasi besar seperti yang terjadi pada 2022 dan 2023.
Kondisi tersebut berbeda dari periode ketika penurunan tajam memberikan kesempatan bagi investor besar untuk menambah kepemilikan pada harga lebih rendah.
Dari perspektif jangka panjang, Darkfost memperingatkan bahwa XRP dapat kekurangan volume pembelian apabila dukungan whale tidak kembali meningkat.
Tanpa partisipasi pembeli besar, pemulihan harga berpotensi menghadapi kesulitan ketika mendekati resistance penting.
Namun, analis tersebut juga menekankan bahwa hubungan antara aktivitas whale dan arah harga bukan aturan mutlak.
Dalam beberapa kondisi pasar, pembalikan tren justru terjadi ketika volume dan minat investor telah turun ke level sangat rendah.
Karena itu, pembacaan outflow whale lima tahun terendah tidak dapat diperlakukan sebagai konfirmasi bahwa XRP pasti akan terus mengalami penurunan.
Data terbaru juga perlu dibedakan dari laporan sebelumnya mengenai 500 juta XRP yang keluar dari Binance. Penurunan cadangan bursa dalam periode panjang dan melemahnya rata-rata penarikan whale merupakan dua pengukuran berbeda.
Bagi prospek harga XRP, pertanyaan utamanya adalah apakah permintaan baru dapat kembali muncul untuk mendukung breakout di atas US$1,37.
Ripple Dukung Proposal SEC, Dorong Kepastian Status Sekuritas Kripto
Di tengah melemahnya aktivitas whale, Ripple mengambil langkah penting dalam pembahasan regulasi aset digital di Amerika Serikat.
Perusahaan tersebut mengajukan surat komentar resmi kepada SEC pada 20 Oktober 2026, yang menyatakan dukungan terhadap proposal Regulation Crypto Assets.
Ripple meminta regulator menyelesaikan proses penyusunan aturan tersebut agar pelaku industri memperoleh kepastian hukum yang lebih jelas.
Chief Legal Officer Ripple, Stuart Alderoty, juga menyampaikan dukungan melalui akun X pribadinya.
Alderoty menilai pendekatan penegakan hukum yang dilakukan kasus demi kasus selama bertahun-tahun telah menciptakan ketidakpastian dan mendorong sebagian inovasi kripto berkembang di luar Amerika Serikat.
Ia menyebut Ripple telah menghabiskan lebih dari US$150 juta untuk memperoleh kejelasan hukum dalam kasusnya sendiri.
Menurut pandangannya, perusahaan lain seharusnya tidak perlu menghadapi proses litigasi panjang dan biaya besar hanya untuk memahami kewajiban mereka berdasarkan undang-undang yang berlaku.
Dalam surat komentarnya, Ripple mengajukan beberapa argumen utama mengenai bagaimana regulator sebaiknya memperlakukan aset kripto.
1. Kontrak investasi, bukan token itu sendiri, yang merupakan sekuritas
Ripple menegaskan bahwa keberadaan kontrak investasi yang melibatkan aset kripto tidak secara otomatis menjadikan token tersebut sebagai sekuritas.
Perusahaan menilai objek pengaturan berdasarkan hukum sekuritas adalah kontrak investasinya, bukan semata-mata aset kripto yang digunakan dalam transaksi.
Pandangan ini dikaitkan dengan Howey test, standar hukum Amerika Serikat yang digunakan untuk menentukan apakah suatu transaksi atau pengaturan memenuhi karakteristik kontrak investasi.
Menurut Ripple, regulator perlu memperhatikan janji yang diberikan penerbit kepada investor, termasuk aktivitas manajerial yang dijanjikan serta kapan kewajiban tersebut selesai atau dihentikan secara permanen.
Perusahaan juga menilai status hukum kontrak investasi tidak seharusnya bergantung pada pemahaman umum pasar mengenai tingkat desentralisasi suatu jaringan.
2. Safe harbor melalui Rule 400 dan Form TR
Ripple mendukung rancangan Rule 400 yang menawarkan mekanisme safe harbor untuk memberikan kepastian ketika suatu aset kripto tidak lagi terikat pada kontrak investasi.
Berdasarkan proposal tersebut, penerbit dapat mengajukan Form TR secara publik untuk menyatakan bahwa aktivitas manajerial penting yang sebelumnya dijanjikan kepada investor telah diselesaikan atau dihentikan secara permanen.
Dokumen tersebut akan memuat sertifikasi dan penjelasan pendukung yang dapat diakses publik melalui sistem SEC.
Namun, Ripple menolak gagasan pembatasan safe harbor hanya kepada penerbit yang telah memenuhi seluruh janji awal mereka.
Menurut perusahaan, penghentian permanen atas kewajiban yang sebelumnya dijanjikan juga perlu diakui dalam kerangka penentuan berakhirnya kontrak investasi.
Ripple meminta SEC memberikan kepastian bahwa tidak mengajukan Form TR tidak otomatis berarti suatu token masih terikat kontrak investasi.
Perusahaan juga menginginkan agar bursa dan broker dapat mengandalkan pengajuan Form TR yang sah ketika menentukan perlakuan terhadap aset kripto.
3. SEC tetap memiliki kewenangan membuat aturan
Ripple turut berpendapat bahwa SEC memiliki dasar kewenangan hukum untuk mengadopsi Regulation Crypto Assets.
Dalam suratnya, perusahaan merujuk Section 28 dari Securities Act dan Section 36 dari Exchange Act, yang memberikan kewenangan kepada SEC untuk menetapkan pengecualian bagi kategori tertentu dari pihak, sekuritas, atau transaksi berdasarkan persyaratan hukum.
Argumen ini muncul setelah Senat Amerika Serikat gagal melanjutkan pembahasan Digital Asset Market Clarity Act melalui pemungutan suara prosedural pada 15 September 2026.
Pemungutan suara tersebut menghasilkan 49 suara mendukung dan 50 menolak, sehingga tidak mencapai ambang yang diperlukan untuk melanjutkan proses.
Ripple menilai kegagalan prosedural di Senat itu tidak menghapus kewenangan SEC untuk menetapkan pengecualian berdasarkan undang-undang sekuritas yang sudah berlaku.
Meski demikian, Regulation Crypto Assets masih berada pada tahap proposal ketika surat komentar Ripple disampaikan.
Dukungan Ripple tidak berarti aturan tersebut telah disahkan atau langsung mengubah status hukum seluruh transaksi XRP.
Dari perspektif pasar, langkah Ripple menjadi perkembangan regulasi penting, tetapi belum dapat dipastikan akan secara langsung meningkatkan permintaan terhadap XRP dalam jangka pendek.
Prediksi Harga XRP 22 Oktober: Skenario Bullish dan Bearish
Prospek XRP menjelang perdagangan 22 Oktober terutama bergantung pada kemampuan harga mempertahankan EMA 100 hari dan menembus kumpulan resistance di US$1,35–US$1,37.
Skenario bullish: target US$1,43
Dalam skenario positif, XRP perlu mempertahankan support EMA 100 hari pada US$1,34.
Setelah itu, pembeli harus mencatatkan penutupan harian di atas Fibonacci retracement 0,5 pada US$1,35.
Konfirmasi yang lebih kuat baru muncul apabila harga berhasil melewati resistance US$1,37, tempat EMA 20 hari, 50 hari, 200 hari, dan Parabolic SAR berkumpul.
Jika seluruh hambatan tersebut berhasil dilewati, peluang kenaikan menuju Fibonacci retracement 0,382 pada US$1,43 akan semakin terbuka.
Apabila momentum bullish terus meningkat, resistance berikutnya berada di US$1,53, yang bertepatan dengan Fibonacci retracement 0,236.
Kelanjutan rebound dari area US$1,26–US$1,30 juga dapat memperkuat skenario ini apabila diikuti peningkatan permintaan dan penutupan harga di atas resistance.
Namun, pembeli masih perlu membuktikan bahwa kenaikan tersebut bukan sekadar pemulihan sementara setelah tekanan jual sebelumnya.
Skenario bearish: risiko turun ke US$1,27
Dalam skenario negatif, XRP gagal menembus resistance US$1,37 dan kembali mengalami tekanan jual.
Risiko pelemahan meningkat apabila harga kehilangan EMA 100 hari pada US$1,34.
Penurunan di bawah level tersebut dapat membawa XRP kembali menuju Fibonacci retracement 0,618 di US$1,27, yang berada dalam zona rebound sebelumnya pada US$1,26–US$1,30.
Jika harga mencatatkan penutupan harian di bawah US$1,27, perhatian pasar akan beralih menuju Fibonacci retracement 0,786 pada US$1,15.
Melemahnya akumulasi whale dapat menjadi faktor tambahan yang membatasi pemulihan apabila permintaan dari investor lain tidak cukup kuat untuk menyerap tekanan jual.
Meski demikian, data whale saja belum cukup untuk memastikan arah penurunan harga.
Untuk saat ini, XRP masih berada dalam kondisi teknikal yang rentan terhadap penolakan selama diperdagangkan di bawah US$1,37.
Karena itu, pergerakan di antara support US$1,34 dan resistance US$1,37 menjadi faktor utama yang perlu diperhatikan sebelum mengantisipasi kenaikan menuju US$1,43 ataupun penurunan menuju US$1,27.
FAQ
Harga XRP masih menunjukkan kecenderungan bearish selama berada di bawah resistance US$1,37. Jika pembeli berhasil menembus dan mempertahankan harga di atas level tersebut, XRP berpotensi menguji US$1,43. Sebaliknya, penutupan harian di bawah US$1,34 dapat meningkatkan risiko koreksi menuju US$1,27.
Support terdekat berada di sekitar US$1,34, yang bertepatan dengan EMA 100 hari. Support berikutnya terletak pada US$1,27 berdasarkan Fibonacci retracement 0,618. Zona US$1,26–US$1,30 juga menjadi area penting karena harga sebelumnya mengalami rebound dari wilayah tersebut.
Aktivitas penarikan whale XRP dari Binance mengalami penurunan signifikan. Menurut analis CryptoQuant Darkfost, rata-rata outflow whale dalam 90 hari telah turun menjadi US$49,7 juta, level terendah dalam lima tahun.
Kondisi ini menunjukkan melemahnya aktivitas penarikan besar yang sering dikaitkan dengan akumulasi, meskipun tidak dapat memastikan bahwa seluruh whale telah berhenti membeli XRP.
Ripple mendukung proposal Regulation Crypto Assets dan meminta SEC menyelesaikan penyusunan aturan tersebut.
Perusahaan menekankan bahwa kontrak investasi, bukan token itu sendiri, yang harus menjadi fokus penentuan status sekuritas. Ripple juga mendukung mekanisme safe harbor melalui Rule 400 dan menegaskan bahwa SEC memiliki kewenangan hukum untuk mengadopsi regulasi tersebut.
Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.
