- Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 3,52 persen ke 5.533,77, menghapus seluruh kenaikan 3,29 persen pada perdagangan sebelumnya.
- Harga minyak Brent naik sekitar 2 persen menjadi US$111 per barel setelah serangan drone menargetkan fasilitas minyak Saudi Aramco.
- Bitcoin turun di bawah US$83.000 ketika saham Asia melemah, di tengah tekanan terhadap sektor AI dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Pasar saham Asia mengalami tekanan jual pada Kamis, 22 Oktober 2026, dengan indeks KOSPI Korea Selatan merosot 3,52 persen akibat pelemahan saham semikonduktor dan perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI). Pada saat bersamaan, harga Bitcoin (BTC) turun di bawah US$83.000, sementara minyak mentah Brent menembus US$111 per barel.
Pelemahan terjadi ketika investor menghadapi sejumlah ketidakpastian, mulai dari laporan keuangan perusahaan teknologi Amerika Serikat, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, hingga prospek kebijakan suku bunga.
Meskipun Bitcoin dan saham Asia bergerak turun dalam periode yang sama, data yang tersedia belum membuktikan adanya hubungan sebab-akibat langsung antara aksi jual saham regional dan penurunan harga BTC.
Bursa Asia Melemah, KOSPI Anjlok 3,52 Persen
Indeks KOSPI Korea Selatan ditutup turun 201,89 poin atau 3,52 persen menjadi 5.533,77 pada perdagangan Kamis. Penurunan tersebut menghapus seluruh penguatan 3,29 persen yang dicatatkan sehari sebelumnya.
Berdasarkan laporan Maeil Business Newspaper, KOSPI membuka perdagangan pada 5.670,11 dan sempat menguat hingga 5.740,28 sebelum berbalik turun.
Tekanan jual kemudian membawa indeks ke titik terendah intraday 5.485,98, setara pelemahan sekitar 4,35 persen, sebelum sebagian kerugian terpangkas menjelang penutupan.
Indeks KOSDAQ juga merosot 28,66 poin atau 3,62 persen menjadi 764,10.
Pelemahan tidak hanya terjadi di Korea Selatan. Bursa saham Jepang, Hong Kong, dan Tiongkok turut mencatat penurunan.
| Indeks | Perubahan | Keterangan |
|---|---|---|
| KOSPI | -3,52 persen | Ditutup pada 5.533,77 |
| KOSDAQ | -3,62 persen | Ditutup pada 764,10 |
| Nikkei 225 | -2,65 persen | Ditutup pada 62.907,84 |
| Hang Seng | Sekitar -3,11 persen | Saham teknologi dan baterai tertekan |
| Shanghai Composite | Sekitar -1,48 persen | Pelemahan pasar saham Tiongkok |
| CSI 300 | Sekitar -1,3 persen | Saham berkapitalisasi besar melemah |
Penurunan serentak tersebut mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko, terutama saham-saham teknologi yang sebelumnya menjadi pendorong utama reli pasar.
Saham Semikonduktor dan AI Picu Tekanan di Seoul
Aksi jual di Korea Selatan didominasi saham perusahaan teknologi besar, terutama produsen semikonduktor yang memiliki keterkaitan dengan perkembangan infrastruktur AI.
Samsung Electronics ditutup turun 4,03 persen menjadi 214.500 won, sementara SK Hynix merosot 5,49 persen ke 1.223.000 won.
Pelemahan saham berkapitalisasi besar mencapai 3,71 persen, lebih dalam dibandingkan saham berkapitalisasi menengah yang turun 1,72 persen dan saham kecil yang melemah 1,20 persen.
Tekanan jual juga terlihat dari luasnya penurunan pasar. Sebanyak 709 saham di papan utama Korea Exchange bergerak melemah, sedangkan hanya 174 saham yang menguat.
Investor institusional mencatat penjualan bersih saham sekitar 462,1 miliar won.
Sebaliknya, investor individu membukukan pembelian bersih senilai 380,2 miliar won. Investor asing, yang sebelumnya melakukan penjualan sepanjang sebagian besar sesi, akhirnya mencatat pembelian bersih sekitar 61,4 miliar won.
Pelemahan terbaru memperpanjang volatilitas pasar saham Korea Selatan setelah KOSPI sebelumnya sempat anjlok 7,57 persen pada 15 Oktober.
Berdasarkan rentang perdagangan 52 minggu yang dirujuk dalam laporan, KOSPI berada sekitar 41,04 persen di bawah level tertingginya, sementara KOSDAQ tertinggal sekitar 37,85 persen dari puncak periode yang sama.
Di sisi kebijakan moneter, Bank of Korea mempertahankan suku bunga acuannya pada 3,00 persen setelah melakukan kenaikan pada Juli dan Agustus.
Keputusan tersebut diambil ketika inflasi konsumen Korea Selatan mencapai 2,9 persen pada September, masih melampaui target bank sentral.
Bank of Korea juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonominya, didukung prospek ekspor dan siklus industri semikonduktor. Namun, sikap kebijakan yang masih cenderung ketat menunjukkan bahwa risiko inflasi tetap menjadi perhatian.
Minyak Brent Tembus US$111, Saham Teknologi Jepang Ikut Tertekan
Tekanan terhadap pasar saham Asia berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah global.
Minyak Brent menguat sekitar 2 persen menjadi US$111 per barel setelah muncul laporan serangan drone terhadap fasilitas minyak Saudi Aramco di Shaybah, Arab Saudi.
Berdasarkan keterangan Kementerian Energi Arab Saudi yang dilaporkan Anadolu Agency, sistem pertahanan udara mencegat drone yang berupaya menyerang fasilitas tersebut pada Rabu, 21 Oktober.
Puing-puing dari pencegatan tersebut menyebabkan kebakaran pada kendaraan kontraktor di luar area fasilitas. Insiden itu menewaskan dua orang dan melukai dua lainnya.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan kegiatan operasional ladang minyak tidak terganggu. Meski demikian, insiden tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan pasokan energi di tengah meningkatnya ketegangan Timur Tengah.
Di Jepang, pelemahan saham teknologi turut menyeret indeks Nikkei 225.
Saham Advantest, Tokyo Electron, dan SoftBank Group menjadi beberapa penekan utama indeks. Kioxia Holdings turun 6,77 persen, sedangkan SoftBank Group merosot 6,86 persen.
Berdasarkan laporan penutupan perdagangan Jepang, Nikkei 225 berakhir melemah sekitar 2,65 persen ke 62.907,84.
Pergerakan mata uang juga menjadi perhatian investor. Pada salah satu pembacaan selama sesi perdagangan, yen berada di kisaran 157,70 hingga 158 per dolar AS.
Pelaku pasar kini menantikan pertemuan kebijakan moneter Bank of Japan pada 29–30 Oktober 2026, yang dapat memberikan petunjuk mengenai arah suku bunga Jepang berikutnya.
Bitcoin Turun di Bawah US$83.000, Apa Hubungannya dengan Saham Asia?
Tekanan di pasar saham regional bertepatan dengan penurunan harga Bitcoin pada perdagangan Kamis.
BTC kehilangan sekitar US$1.500 dalam kurun satu jam dan sempat bergerak di bawah US$83.000, dengan harga berada di sekitar US$82.825 pada pembacaan yang digunakan dalam analisis.
Penurunan tersebut berlangsung ketika saham teknologi Asia menghadapi tekanan jual dan harga minyak global meningkat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar kripto dan saham sama-sama menghadapi ketidakpastian makroekonomi. Namun, pergerakan yang terjadi bersamaan tidak cukup untuk membuktikan bahwa aksi jual saham Asia secara langsung menyebabkan penurunan Bitcoin.
Sebagai konteks, Bitcoin sebelumnya juga sempat turun di bawah US$80.000 pada pekan lalu setelah data harga produsen Amerika Serikat (PPI) melampaui ekspektasi pasar.
Tekanan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
Dalam analisis sebelumnya pada 14 Oktober, Bitcoin justru sempat mempertahankan harga di sekitar US$83.000 ketika saham teknologi Asia mengalami tekanan tajam.
Perbedaan respons pasar ini menunjukkan bahwa hubungan antara Bitcoin dan saham tidak selalu bergerak dengan pola yang sama pada setiap periode.
Untuk saat ini, investor memantau perkembangan harga minyak, sentimen terhadap perusahaan teknologi dan AI, serta ekspektasi suku bunga sebagai faktor yang dapat memengaruhi pergerakan aset berisiko.
Kenaikan biaya energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi, sementara ketidakpastian kebijakan moneter dapat memengaruhi minat investor terhadap saham maupun aset kripto.
Dengan demikian, pelemahan Bitcoin dan bursa Asia pada 22 Oktober menjadi gambaran meningkatnya kehati-hatian pasar global, meskipun arah pergerakan selanjutnya masih bergantung pada perkembangan ekonomi dan geopolitik.
Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.