- Pemilu sela AS pada 3 November 2026 berpotensi memicu volatilitas pasar Bitcoin.
- Bitcoin mencatat penurunan tajam setelah pemilu 2014, 2018, dan 2022, dengan penyebab berbeda.
- Analis berbeda pandangan mengenai risiko aksi jual dan peluang pemulihan Bitcoin setelah pemilu.
Harga Bitcoin (BTC) kembali menjadi perhatian menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada Selasa, 3 November 2026. Pelaku pasar mencermati apakah ketidakpastian politik akan memicu koreksi lanjutan atau justru membuka peluang pemulihan setelah pemungutan suara berakhir.
Kekhawatiran tersebut muncul karena Bitcoin pernah mengalami penurunan besar pada beberapa periode pemilu sela sebelumnya, terutama pada 2022 ketika harganya jatuh hingga di bawah US$16.000.
Namun, sebagian trader menilai dampak ketidakpastian politik mungkin sudah tercermin dalam harga. Pergerakan berikutnya juga akan bergantung pada perkembangan regulasi kripto, kebijakan Federal Reserve (The Fed), dan minat investor institusional.
Pemilu Sela AS Jadi Ujian Sentimen Bitcoin
Menurut Federal Election Commission, pemilu federal AS berlangsung pada 3 November 2026.
Pemilu sela ini menentukan seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat serta sekitar sepertiga kursi Senat. Hasilnya dapat mengubah keseimbangan kekuatan di Kongres, tetapi tidak mengganti presiden yang sedang menjabat.
Bagi industri kripto, perubahan komposisi Kongres dapat memengaruhi pembahasan rancangan undang-undang terkait aset digital, termasuk kebijakan yang didorong pemerintahan Presiden Donald Trump.
Ketidakpastian mengenai arah regulasi membuat sebagian investor berhati-hati, terutama karena perubahan dukungan politik dapat memengaruhi peluang pengesahan aturan baru.
Namun, reaksi pasar tidak selalu mengikuti hasil pemilu secara langsung. Sebagian ketidakpastian dapat lebih dahulu diperhitungkan investor, sehingga pergerakan harga setelah pemungutan suara bisa berbeda dari perkiraan sebelumnya.
Apakah Kejatuhan Bitcoin pada 2022 Bisa Terulang?
Analis kripto Ash Crypto melalui unggahannya di X membandingkan kondisi Bitcoin menjelang pemilu 2026 dengan pergerakan pada periode yang sama empat tahun lalu.
Pada awal November 2022, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$20.000 sebelum merosot hingga di bawah US$16.000 pada 21 November.
Penurunan dari harga sebelum pemilu mencapai sekitar 24 persen, bergantung pada titik harga awal yang digunakan.
Ash Crypto memperingatkan bahwa volatilitas serupa masih mungkin terjadi dan mengingatkan trader agar berhati-hati menggunakan leverage ketika ketidakpastian pasar meningkat.
Namun, kejatuhan Bitcoin pada 2022 tidak dapat dilepaskan dari krisis FTX.
Bursa kripto tersebut mengalami masalah likuiditas yang berujung pada pengajuan kebangkrutan pada 11 November 2022. Peristiwa itu memperburuk tekanan jual yang sebelumnya sudah berlangsung akibat kenaikan suku bunga AS dan pelemahan pasar aset berisiko.
Karena itu, penurunan Bitcoin setelah pemilu 2022 tidak bisa dianggap sebagai dampak langsung hasil pemungutan suara.
Riwayat Pemilu AS Beragam, Apa yang Perlu Dipantau?
Pola historis menunjukkan Bitcoin mencapai titik terendah siklus setelah tiga pemilu sela sebelumnya.
Pada 2014, BTC mencapai titik terendah pada Januari 2015, sekitar 71 hari setelah pemilu. Pada 2018, titik terendah terbentuk 39 hari setelah pemungutan suara, sedangkan pada 2022 hanya berselang 13 hari.
Bitcoin juga pernah mengalami tekanan sebelum pemilu. Pada enam bulan menjelang pemilu sela 2018, BTC melemah sekitar 29 persen, sementara periode serupa pada 2022 mencatat penurunan sekitar 37 persen.
Namun, kondisi 2026 menunjukkan perbedaan.
Bitcoin telah menyentuh titik terendah sekitar US$57.850 pada 1 Juli 2026, sekitar empat bulan sebelum pemilu. Harga kemudian pulih hingga melampaui US$81.000 pada Oktober, sebelum kembali melemah menjelang November.
Pada perdagangan Asia 3 November, Bitcoin bahkan sempat turun ke bawah US$77.000 di tengah pelemahan saham teknologi global.
Perbedaan tersebut menunjukkan dasar harga siklus saat ini mungkin telah terbentuk sebelum pemilu, meskipun risiko koreksi tambahan tetap terbuka.
Kami sebelumnya juga membahas risiko penurunan Bitcoin setelah pemilu AS, dengan US$73.000 sebagai salah satu area support yang disoroti analis.
CLARITY Act dan Kebijakan The Fed Jadi Faktor Penting
Selain hasil pemilu, perhatian pasar juga tertuju pada kelanjutan pembahasan CLARITY Act, rancangan undang-undang yang bertujuan memperjelas kerangka regulasi aset digital di AS.
Rancangan tersebut telah disahkan DPR AS pada Juli 2025, tetapi prosesnya masih tertahan di Senat.
Menurut catatan pemungutan suara resmi Senat, upaya melanjutkan pembahasan CLARITY Act gagal pada 15 September 2026 setelah memperoleh 49 suara mendukung dan 50 menolak.
Komposisi Kongres hasil pemilu berpotensi memengaruhi kelanjutan pembahasan regulasi tersebut, terutama ketika anggota Kongres terpilih mulai menjabat pada Januari 2027.
Namun, tertundanya CLARITY Act tidak otomatis berarti harga Bitcoin akan turun. Pasar juga mempertimbangkan kebijakan moneter The Fed, arus dana ETF Bitcoin spot, dan kondisi likuiditas global.
Jika ketidakpastian politik berkurang dan permintaan investor membaik, Bitcoin berpeluang mengalami pemulihan. Sebaliknya, pelemahan pasar yang lebih luas dapat meningkatkan tekanan jual meskipun hasil pemilu sudah diketahui.
Dengan demikian, hasil pemilu sela AS bukan satu-satunya penentu arah Bitcoin. Respons pasar terhadap kebijakan ekonomi, regulasi kripto, dan arus investasi institusional akan menjadi faktor penting untuk melihat apakah BTC kembali terkoreksi atau mulai membangun momentum pemulihan.
Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.