- CEO OKX Star Xu mengkritik praktik keamanan bursa kripto setelah peretasan Binance senilai US$6,34 miliar.
- Binance menyatakan telah mengganti 98 persen aset token terdampak, sementara investigasi terhadap serangan masih berlangsung.
- Insiden tersebut kembali memunculkan pertanyaan tentang keamanan bursa terpusat dan pentingnya penyimpanan kripto secara mandiri.
Peretasan Binance senilai US$6,34 miliar pada 29 Oktober 2026 tidak hanya mengguncang pasar kripto, tetapi juga memicu kritik dari sesama pelaku industri.
CEO OKX, Star Xu, ikut mempertanyakan bagaimana sejumlah bursa kripto mengelola risiko keamanan, terutama dalam melindungi infrastruktur internal dan dana pelanggan.
Melalui unggahan di X pada 4 November, Xu menyoroti kelemahan perlindungan yang dapat membuat sistem sebuah platform rentan terhadap serangan.
Komentar tersebut muncul ketika Binance masih berusaha memulihkan operasional dan menyelesaikan investigasi atas salah satu pencurian aset kripto terbesar yang pernah dilaporkan.
Namun, apakah kritik tersebut berarti OKX memiliki sistem keamanan yang lebih baik daripada Binance?
CEO OKX Kritik Keamanan Bursa Kripto Setelah Binance Diretas
Pernyataan Star Xu menarik perhatian karena muncul tak lama setelah Binance mengungkap bagaimana peretas berhasil membobol infrastruktur dompet perusahaan.
Dalam unggahan awalnya, Xu mempertanyakan praktik keamanan yang diterapkan sejumlah platform besar, meskipun tidak secara langsung menyebut nama bursa tertentu.
Pada unggahan lainnya, Xu secara lebih tegas mengkritik penanganan insiden Binance.
Ia menyoroti tanggung jawab pimpinan perusahaan, termasuk pendiri Binance Changpeng Zhao (CZ), serta menyinggung dampak peretasan terhadap reputasi industri kripto.
Xu juga mengaitkan insiden tersebut dengan meningkatnya kekhawatiran investor, penurunan harga Bitcoin, dan gelombang likuidasi di pasar.
Namun, perubahan harga dan likuidasi tidak dapat seluruhnya dianggap sebagai akibat langsung peretasan tanpa analisis yang lebih mendalam.
Di tengah kritik tersebut, Xu juga menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin memanfaatkan krisis pesaing untuk menyerang perusahaan lain.
Menurutnya, tujuan yang lebih penting adalah mendorong kerja sama antarplatform untuk meningkatkan standar keamanan industri secara keseluruhan.
Sikap tersebut sejalan dengan seruannya pada awal November agar pelaku industri memperkuat pengawasan transaksi dan koordinasi ketika terjadi pencurian aset.
Xu sebelumnya mengusulkan sistem peringatan keamanan yang memungkinkan bursa, penerbit stablecoin, serta perusahaan analitik blockchain berbagi informasi lebih cepat.
Tujuannya adalah mempersempit kesempatan peretas memindahkan aset sebelum transaksi mencurigakan terdeteksi dan tindakan pengamanan dilakukan.
Bagaimana Peretas Binance Bisa Mencuri US$6,34 Miliar?
Berdasarkan laporan investigasi resmi Binance pada 3 November, serangan tidak terjadi dalam satu tahap.
Pelaku telah menargetkan sejumlah karyawan perusahaan sejak Juni 2026 melalui perangkat lunak berbahaya dan rekayasa sosial.
Salah satu engineer mengunduh installer Homebrew yang telah dimodifikasi ketika hendak memasang alat coding berbasis kecerdasan buatan.
Pada September, engineer lainnya menjadi sasaran wawancara kerja palsu yang berakhir dengan pengunduhan repositori kode berbahaya.
Melalui perangkat yang telah terinfeksi, penyerang kemudian memperluas akses ke sistem internal perusahaan, termasuk menggunakan alat AI internal dan kredensial yang dicuri.
Serangan mencapai puncaknya pada 29 Oktober ketika pelaku memperoleh akses ilegal ke layanan penandatanganan dompet atau wallet signing service.
Akses tersebut memungkinkan pelaku memindahkan aset tanpa mengikuti proses penarikan pengguna secara normal.
Aset yang terdampak mencakup Bitcoin, Ethereum, XRP, Solana, dan sejumlah token lainnya.
Binance juga mengungkap bahwa pelaku menyalahgunakan mekanisme otorisasi EIP-7702 pada Ethereum untuk mempertahankan kemampuan memindahkan sebagian dana, meskipun penarikan melalui platform telah dihentikan.
Perusahaan tidak menyatakan bahwa private key dompetnya telah bocor. Temuan awal justru mengarah pada kompromi sistem internal dan penyalahgunaan otorisasi transaksi.
Sebelumnya, Coin Edition Indonesia melaporkan hasil investigasi FBI yang mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok TraderTraitor asal Korea Utara.
Apakah Dana Pengguna Binance Masih Aman?
Setelah insiden tersebut, Binance menyatakan perusahaan akan menanggung dampak finansial pencurian agar pelanggan tidak harus menanggung kerugian.
Dalam laporan 3 November, Binance mengungkapkan bahwa lebih dari 100 persen dana yang diperlukan untuk menutup kerugian telah disiapkan.
Hingga 31 Oktober, sekitar 98 persen aset token terdampak telah diganti, sementara perusahaan masih berupaya memperoleh sisa aset yang memiliki likuiditas lebih rendah.
Binance juga menyebut sekitar US$2,85 miliar aset berhasil dibekukan atau dicegat melalui koordinasi dengan mitra industri dan pihak berwenang.
Namun, kedua angka tersebut menggambarkan hal berbeda.
Penggantian saldo menggunakan dana perusahaan tidak sama dengan keberhasilan mengambil kembali aset dari penyerang.
Begitu pula aset yang dibekukan belum tentu langsung dapat dikembalikan karena proses pemulihannya dapat melibatkan pemeriksaan tambahan dan tindakan hukum.
Sebagai respons, Binance menyatakan telah membangun ulang sistem dompet dan alat AI internal yang terdampak, mengganti perangkat terkait, mencabut kredensial berisiko, serta meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas mencurigakan.
Perusahaan juga berencana melibatkan pakar keamanan independen untuk mengevaluasi penyebab dan respons terhadap insiden tersebut.
Meski demikian, laporan yang tersedia masih bersifat awal. Efektivitas seluruh perubahan keamanan tersebut belum dapat dipastikan sebelum proses peninjauan selesai.
Apakah Sistem Keamanan OKX Lebih Baik daripada Binance?
Kritik Star Xu kemudian memunculkan pertanyaan apakah OKX memiliki perlindungan yang lebih kuat dibandingkan Binance.
Namun, pernyataan CEO sebuah bursa bukan bukti bahwa platformnya lebih aman daripada pesaing.
Kedua perusahaan menerapkan berbagai mekanisme pengamanan, termasuk penyimpanan aset secara offline, pengendalian akses akun, dan publikasi proof of reserves (PoR).
Dalam laporan PoR ke-49 yang diterbitkan pada 2 November, OKX menyatakan cadangannya mencapai 108 persen untuk BTC, 101 persen untuk ETH, 106 persen untuk USDT, dan 100 persen untuk USDC.
Rasio tersebut menggambarkan perbandingan aset cadangan dengan kewajiban pelanggan pada saat pengambilan data.
Namun, PoR terutama membantu pengguna memeriksa kecukupan aset yang dilaporkan.
Laporan cadangan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh infrastruktur keamanan suatu bursa bebas dari kerentanan.
Insiden Binance menunjukkan bahwa pencurian dapat terjadi melalui perangkat karyawan, sistem internal, dan otorisasi transaksi, bukan hanya melalui kebocoran private key.
Karena itu, perbandingan keamanan bursa juga perlu mempertimbangkan audit independen, pengelolaan akses internal, prosedur tanggap insiden, transparansi, serta perlindungan terhadap transaksi yang tidak sah.
Haruskah Investor Memindahkan Kripto dari Bursa?
Peretasan Binance kembali menghidupkan perdebatan mengenai penyimpanan aset di centralized exchange (CEX) dibandingkan dompet pribadi.
Bursa terpusat memberikan kemudahan bagi pengguna untuk membeli, menjual, dan memperdagangkan aset kripto.
Namun, ketika aset disimpan dalam akun kustodian, pengguna bergantung pada kemampuan penyelenggara untuk melindungi dana dan memproses penarikan.
Sebaliknya, penyimpanan mandiri atau self-custody memungkinkan pengguna mengendalikan private key melalui dompet pribadi, termasuk hardware wallet.
Pendekatan tersebut dapat mengurangi ketergantungan pada keamanan operasional bursa.
Namun, self-custody juga memiliki risiko tersendiri.
Kehilangan seed phrase, menyetujui transaksi berbahaya, menggunakan aplikasi dompet palsu, atau mengirim aset ke alamat yang salah dapat menyebabkan kerugian permanen.
Karena itu, memindahkan seluruh aset dari bursa bukan keputusan yang otomatis paling aman bagi setiap pengguna.
Pilihan penyimpanan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan perdagangan, kemampuan menjaga private key, dan tingkat risiko yang dapat ditanggung.
Apa yang Perlu Diperiksa Sebelum Memilih Bursa Kripto?
Bagi investor Indonesia, biaya perdagangan dan jumlah token yang tersedia seharusnya bukan satu-satunya pertimbangan ketika memilih platform.
Beberapa aspek yang perlu diperiksa meliputi:
- Legalitas: Periksa status izin dan pengawasan penyelenggara melalui kanal resmi OJK.
- Keamanan akun: Pastikan tersedia autentikasi berlapis, perlindungan penarikan, dan notifikasi aktivitas mencurigakan.
- Transparansi cadangan: Cari tahu apakah platform menyediakan proof of reserves yang dapat diverifikasi dan bagaimana cakupannya.
- Riwayat insiden: Perhatikan bagaimana perusahaan merespons peretasan, memberi informasi kepada pengguna, dan menyelesaikan kewajiban.
- Pengelolaan aset: Pahami apakah dana disimpan secara kustodian, bagaimana penarikan diproses, serta risiko pembatasan layanan ketika terjadi insiden.
Pengguna juga perlu berhati-hati terhadap pesan yang mengatasnamakan bursa dan meminta pemindahan dana secara mendadak setelah terjadi peretasan.
Pengumuman keamanan sebaiknya selalu diperiksa melalui situs atau aplikasi resmi, bukan tautan yang diterima dari akun tidak dikenal.
Pada akhirnya, kritik CEO OKX terhadap keamanan industri tidak cukup untuk menentukan bursa mana yang paling aman.
Pelajaran terpenting dari peretasan Binance adalah bahwa keamanan aset kripto tidak hanya bergantung pada perlindungan dompet, tetapi juga seluruh sistem dan manusia yang memiliki akses terhadapnya.
Bagi pengguna, transparansi cadangan, kemampuan merespons insiden, dan kendali atas penyimpanan aset tetap menjadi pertimbangan penting dalam mengelola risiko.
Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.