Opsi Bitcoin US$11 Miliar Jatuh Tempo, BTC Terancam Jatuh?

Last Updated:
Opsi Bitcoin US$11 Miliar Jatuh Tempo, BTC Terancam Jatuh?
Google News

Get our latest news first. Add us as your Preferred Source on Google and tap "Star" to prioritize our updates.

  • Opsi Bitcoin senilai sekitar US$11 miliar dijadwalkan jatuh tempo pada 30 Oktober 2026, dengan area US$75.000–US$82.000 menjadi perhatian utama pasar.
  • Jumlah opsi put pada harga pelaksanaan di bawah US$80.000 lebih dari dua kali opsi call, meningkatkan perhatian terhadap risiko penurunan BTC.
  • Ketidakpastian menjelang pemilu sela AS pada 3 November dapat meningkatkan volatilitas Bitcoin sepanjang November, terutama jika trader mengurangi aktivitas lindung nilai.

Harga Bitcoin (BTC) menghadapi potensi volatilitas besar menjelang kedaluwarsa kontrak opsi senilai sekitar US$11 miliar pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Jumlah tersebut mewakili sekitar sepertiga dari seluruh open interest opsi Bitcoin yang tersedia di bursa derivatif kripto Deribit.

Kedaluwarsa kontrak atau options expiry ini dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober pukul 15.00 WIB, ketika sejumlah posisi derivatif akan diselesaikan berdasarkan ketentuan bursa.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian setelah Bitcoin sempat turun di bawah US$80.000 pada awal pekan. Dalam salah satu pengamatan perdagangan Kamis (29/10/2026), BTC berada di sekitar US$79.600, meskipun harga terus berubah sepanjang hari.

Besarnya kontrak yang akan berakhir dapat mendorong trader dan pelaku pasar derivatif menyesuaikan posisi sebelum maupun setelah penyelesaian.

Namun, kedaluwarsa opsi bukan satu-satunya faktor yang berpotensi memengaruhi harga Bitcoin.

Pasar juga menghadapi pemilu sela Amerika Serikat (AS) pada 3 November, yang hasilnya dapat mengubah ekspektasi investor terhadap arah kebijakan kripto pemerintahan Donald Trump.

Opsi Bitcoin US$11 Miliar Jatuh Tempo, Zona US$75.000–US$82.000 Disorot

Menurut laporan Bloomberg pada 29 Oktober, sebagian besar sensitivitas kontrak opsi Bitcoin yang akan jatuh tempo terkonsentrasi di sekitar harga pasar saat ini.

Adam Haeems, Head of Asset Management di Tesseract Group, menyebut sekitar 70 persen gamma dari opsi yang akan berakhir berada dalam rentang US$75.000 hingga US$82.000.

Gamma merupakan ukuran perubahan delta suatu opsi ketika harga aset dasarnya bergerak.

Delta sendiri menggambarkan seberapa sensitif nilai opsi terhadap perubahan harga Bitcoin.

Bagi pelaku pasar seperti dealer atau market maker, perubahan gamma dapat memengaruhi seberapa besar eksposur yang perlu disesuaikan melalui transaksi lindung nilai.

Sebagai contoh, ketika harga Bitcoin turun, dealer tertentu mungkin perlu menjual BTC atau instrumen terkait untuk menjaga eksposur risikonya.

Namun, dalam kondisi posisi yang berbeda, dealer justru dapat membeli ketika harga turun sehingga membantu meredam tekanan jual.

Karena itu, konsentrasi gamma yang besar tidak otomatis menunjukkan bahwa Bitcoin akan mengalami penurunan.

Menurut Haeems, jika dealer memiliki eksposur gamma negatif, aktivitas hedging mereka berpotensi mempercepat penurunan harga, terutama ketika BTC bergerak menuju area US$75.000–US$78.000.

Sebaliknya, jika dealer memiliki gamma positif, penyesuaian posisi dapat membantu menahan fluktuasi harga.

Haeems juga menegaskan bahwa data publik tidak cukup untuk memastikan arah keseluruhan posisi dealer.

Hal tersebut menjadi alasan mengapa pasar tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa kedaluwarsa opsi senilai US$11 miliar akan menyebabkan penurunan harga Bitcoin.

Opsi Put Mendominasi di Bawah US$80.000

Perhatian terhadap risiko bearish semakin meningkat karena komposisi kontrak opsi pada level harga yang lebih rendah.

Berdasarkan data yang dikutip Bloomberg, jumlah opsi put pada harga pelaksanaan di bawah US$80.000 melebihi opsi call dengan rasio lebih dari dua banding satu.

Opsi put memberikan hak kepada pembelinya untuk menjual aset pada harga pelaksanaan tertentu sesuai ketentuan kontrak.

Instrumen tersebut sering digunakan untuk melindungi portofolio dari penurunan harga, meskipun juga dapat dipakai untuk spekulasi bearish.

Sebaliknya, opsi call memberikan hak kepada pembeli untuk membeli aset pada harga yang telah ditetapkan.

Dominasi opsi put di bawah US$80.000 menunjukkan besarnya posisi yang berkaitan dengan perlindungan atau eksposur terhadap risiko penurunan pada area tersebut.

Namun, rasio itu hanya berlaku untuk kelompok harga pelaksanaan di bawah US$80.000, bukan seluruh kontrak opsi Bitcoin yang akan jatuh tempo.

Bagi pasar, kemampuan BTC mempertahankan area US$80.000 menjadi perhatian karena perubahan harga di sekitar level tersebut dapat memengaruhi kebutuhan hedging sejumlah pelaku derivatif.

Jika tekanan jual meningkat, rentang US$75.000–US$78.000 dapat kembali menjadi fokus.

Sebelumnya, Coin Edition Indonesia membahas risiko Bitcoin turun menuju US$73.000–US$75.000 apabila support US$80.000 gagal bertahan.

Analisis tersebut juga menyoroti bagaimana eksposur gamma dapat memengaruhi volatilitas pasar, tetapi tidak memberikan kepastian mengenai arah harga.

Opsi Call Bitcoin di US$90.000–US$100.000 Terancam Berakhir Tanpa Nilai

Di sisi lain, sejumlah besar kontrak opsi Bitcoin yang akan jatuh tempo memiliki harga pelaksanaan jauh di atas harga pasar saat ini.

Konsentrasi opsi call terlihat pada level US$90.000, US$95.000, dan US$100.000.

Kontrak tersebut memberikan hak kepada pemegangnya untuk memperoleh eksposur pembelian Bitcoin pada harga yang ditentukan.

Namun, ketika BTC diperdagangkan di sekitar US$80.000, opsi call dengan harga pelaksanaan tersebut berada dalam kondisi out of the money.

Artinya, harga pasar masih lebih rendah daripada harga pelaksanaan opsi.

Jika Bitcoin tidak mengalami kenaikan cukup besar sebelum waktu kedaluwarsa, kontrak call tersebut berpotensi berakhir tanpa nilai intrinsik.

Kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian trader sebelumnya menempatkan posisi untuk mengantisipasi kenaikan Bitcoin menuju level yang jauh lebih tinggi.

Namun, pergerakan harga selama Oktober belum mampu membawa BTC kembali mendekati target tersebut.

Meski sejumlah besar opsi call berada pada harga pelaksanaan tinggi, perhatian jangka pendek lebih banyak tertuju pada kontrak di sekitar US$75.000–US$82.000.

Pasalnya, kontrak yang berada lebih dekat dengan harga pasar umumnya memiliki sensitivitas lebih besar terhadap perubahan harga ketika waktu kedaluwarsa semakin dekat.

Bagi trader, periode menjelang pukul 15.00 WIB pada 30 Oktober menjadi waktu penting untuk memantau perubahan posisi dan volatilitas.

Meski demikian, tidak ada aturan yang memastikan harga Bitcoin akan bergerak menuju level tertentu hanya karena terdapat konsentrasi open interest yang besar.

Setelah kontrak berakhir, posisi hedging yang sebelumnya berkaitan dengan opsi tersebut juga dapat berubah.

Perubahan inilah yang berpotensi memengaruhi kondisi pasar setelah kedaluwarsa.

Pemilu Sela AS 3 November Bisa Memperbesar Volatilitas Bitcoin

Risiko pergerakan tajam Bitcoin diperkirakan belum akan berakhir setelah options expiry pada 30 Oktober.

Pasar masih menghadapi pemilu sela AS yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 3 November 2026.

Pemilu tersebut akan menentukan komposisi Kongres AS, termasuk kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat.

Hasilnya dapat memengaruhi kemampuan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk mendorong agenda kebijakan yang membutuhkan dukungan legislatif, termasuk sejumlah rancangan regulasi industri kripto.

Caroline Mauron, salah satu pendiri Orbit Markets, memperkirakan sebagian penjual opsi dapat menunda pembukaan kontrak baru hingga hasil pemilu menjadi lebih jelas.

Biasanya, sejumlah investor yang menjual opsi terhadap kepemilikan Bitcoin akan membuka posisi baru setelah kontrak sebelumnya berakhir.

Namun, ketidakpastian politik berpotensi membuat mereka menunda aktivitas tersebut.

Menurut Mauron, berkurangnya penawaran opsi baru dari pelaku yang biasanya menyediakan eksposur gamma dapat mengurangi efek peredam volatilitas di pasar.

Dengan demikian, pergerakan Bitcoin dapat menjadi lebih tajam ketika hasil pemilu mulai diumumkan.

Namun, besarnya dampak tersebut masih bergantung pada posisi dealer, permintaan perlindungan risiko, serta kondisi likuiditas secara keseluruhan.

Survei Bloomberg: Proyeksi Bitcoin Akhir Tahun Berbeda Menurut Hasil Pemilu

Ketidakpastian politik juga terlihat dalam survei Bloomberg Markets Pulse yang menanyakan perkiraan harga Bitcoin pada akhir 2026 berdasarkan kemungkinan komposisi Kongres AS.

Hasil survei menunjukkan perbedaan cukup besar antara tiga skenario politik.

Skenario kendali Kongres ASMedian proyeksi harga BTC akhir 2026
Partai Republik mempertahankan kendali kedua kamarUS$90.800
Partai Demokrat menguasai kedua kamarUS$76.450
Kendali Kongres terbagi antara kedua partaiUS$84.100

Angka tersebut mencerminkan median perkiraan responden survei dalam skenario hipotetis, bukan target resmi Bloomberg atau prediksi yang telah terbukti.

Survei Markets Pulse juga menggunakan partisipasi sukarela dan hasil yang tidak diberi pembobotan statistik, sehingga tidak dapat diperlakukan sebagai proyeksi yang mewakili seluruh investor.

Perbedaan angka menunjukkan bagaimana responden menilai kemungkinan pengaruh konfigurasi politik terhadap kebijakan dan sentimen pasar kripto.

Jika Partai Republik mempertahankan kendali kedua kamar Kongres, pemerintahan Trump berpotensi memiliki ruang legislatif yang lebih besar untuk mendorong agenda tertentu.

Sebaliknya, perubahan kendali Kongres dapat memengaruhi prioritas legislasi, pengawasan, serta proses pembahasan regulasi aset digital.

Namun, hasil pemilu tidak secara langsung menentukan harga Bitcoin.

Pergerakan BTC juga dipengaruhi kebijakan suku bunga The Fed, arus investasi institusional, kondisi likuiditas global, dan permintaan pasar.

Paul Howard, Senior Director di Wincent, memperkirakan volatilitas Bitcoin akan meningkat pada November setelah pasar mengalami periode pergerakan yang relatif tenang selama setahun terakhir.

Menurutnya, investor dapat meningkatkan permintaan opsi put untuk melindungi portofolio terhadap kemungkinan penurunan harga setelah pemilu.

Aktivitas tersebut dapat mengubah komposisi posisi derivatif dan menambah sensitivitas pasar terhadap pergerakan BTC.

Bagi investor Indonesia, dua agenda tersebut memiliki waktu yang perlu diperhatikan.

Kedaluwarsa opsi Bitcoin di Deribit berlangsung pada Jumat, 30 Oktober pukul 15.00 WIB, sedangkan pemilu sela AS dijadwalkan pada Selasa, 3 November waktu setempat. Penghitungan dan pengumuman hasilnya dapat berlangsung hingga hari berikutnya dalam waktu Indonesia.

Sementara itu, pasar kripto juga baru saja merespons keputusan The Fed mempertahankan suku bunga AS di kisaran 3,75–4,00 persen.

Kombinasi faktor moneter, kedaluwarsa kontrak derivatif, dan ketidakpastian politik dapat memengaruhi sentimen Bitcoin dalam beberapa hari mendatang.

Untuk saat ini, rentang US$75.000–US$82.000 menjadi area utama yang perlu diperhatikan karena konsentrasi sensitivitas opsi berada di dalamnya.

Namun, baik kedaluwarsa opsi US$11 miliar maupun pemilu sela AS tidak menjamin Bitcoin akan bergerak naik atau turun.

Arah pergerakan berikutnya tetap bergantung pada aktivitas hedging, posisi pasar, serta perubahan permintaan dan likuiditas setelah kedua peristiwa tersebut.

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.