Penipuan Kripto Diperkirakan Tembus US$17 Miliar, Chainalysis Ambil Langkah Baru

Last Updated:
Penipuan Kripto Diperkirakan Tembus US$17 Miliar, Chainalysis Ambil Langkah Baru
Google News

Get our latest news first. Add us as your Preferred Source on Google and tap "Star" to prioritize our updates.

  • Kerugian penipuan kripto pada 2025 diperkirakan mencapai US$17 miliar.
  • ACAMS dan Chainalysis memperbarui sertifikasi investigasi kejahatan kripto.
  • Program baru diluncurkan 19 November dengan pelatihan investigasi blockchain.

Ancaman penipuan kripto yang semakin kompleks mendorong Association of Certified Anti-Money Laundering Specialists (ACAMS) menggandeng perusahaan analitik blockchain Chainalysis untuk memperkuat pelatihan investigasi kejahatan keuangan berbasis aset digital.

Kerja sama tersebut diumumkan pada 8 Oktober 2026, menyusul estimasi Chainalysis bahwa nilai penipuan dan fraud kripto sepanjang 2025 berpotensi melampaui US$17 miliar. Kedua perusahaan kini berupaya meningkatkan kemampuan profesional kepatuhan dalam mengidentifikasi transaksi mencurigakan dan menelusuri aliran dana ilegal.

Melalui pengumuman resmi ACAMS dan Chainalysis, kedua perusahaan memperkenalkan pembaruan program sertifikasi Certified Cryptoasset Anti-Financial Crime Specialist (CCAS), yang dijadwalkan mulai tersedia pada 19 November 2026.

ACAMS dan Chainalysis Perluas Pelatihan Investigasi Kripto

Program CCAS yang diperbarui mencakup empat modul pembelajaran mengenai teknologi blockchain, risiko kejahatan keuangan, kerangka regulasi aset kripto, serta penerapan program kepatuhan dan investigasi.

Salah satu perubahan utamanya adalah integrasi materi dari Chainalysis, sehingga peserta dapat mempelajari metode investigasi blockchain berdasarkan studi kasus dan praktik yang lebih mendekati kondisi dunia nyata.

ACAMS juga menyediakan latihan berbasis kasus serta ujian percobaan yang diperluas menjadi 300 soal untuk membantu peserta mempersiapkan sertifikasi.

Pembaruan ini ditujukan kepada profesional di bidang pencegahan pencucian uang, lembaga keuangan, perusahaan aset digital, serta pihak lain yang bertanggung jawab terhadap pemantauan dan investigasi transaksi mencurigakan.

Kebutuhan pelatihan tersebut terlihat dari survei ACAMS yang menunjukkan bahwa 79% profesional pencegahan kejahatan keuangan yang disurvei menganggap kripto dan aset digital sebagai kesenjangan pengetahuan atau pelatihan terbesar mereka.

CEO ACAMS Neil Sternthal menegaskan bahwa kemampuan profesional perlu terus berkembang mengikuti perubahan teknologi dan metode kejahatan keuangan.

“Untuk tetap selangkah lebih maju dalam menghadapi kejahatan keuangan, para praktisi harus terus mengembangkan keterampilan baru seiring berkembangnya ancaman dan teknologi,” ujarnya.

Program CCAS sudah tersedia melalui tahap prapenjualan, sementara materi pembelajaran dan sertifikasi yang diperbarui akan mulai tersedia pada 19 November mendatang.

Kejahatan Kripto Kian Kompleks, Bagaimana dengan Indonesia?

Langkah ACAMS dan Chainalysis berlangsung ketika aktivitas kejahatan berbasis aset digital semakin sulit ditangani hanya dengan pendekatan investigasi konvensional.

Berdasarkan laporan Chainalysis 2026 Crypto Crime Report, alamat kripto yang teridentifikasi terkait aktivitas ilegal menerima sedikitnya US$154 miliar sepanjang 2025, meningkat sekitar 162% dibandingkan tahun sebelumnya.

Angka tersebut mencakup berbagai kategori aktivitas ilegal, termasuk penghindaran sanksi, sehingga tidak dapat disamakan dengan estimasi kerugian penipuan kripto sebesar US$17 miliar.

Dalam analisis khusus mengenai penipuan kripto, Chainalysis menjelaskan bahwa pelaku kejahatan semakin memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), identitas palsu, serta teknologi deepfake untuk menjalankan skema penipuan yang lebih meyakinkan.

Penggunaan teknologi tersebut turut meningkatkan tantangan bagi penyelidik, terutama ketika dana berpindah melalui berbagai jaringan blockchain dan layanan keuangan digital.

CEO Chainalysis Jonathan Levin menekankan bahwa transparansi blockchain hanya akan efektif apabila petugas investigasi memiliki kemampuan untuk memanfaatkan informasi transaksi tersebut.

“Keunggulan transparansi blockchain hanya berarti jika para praktisi memiliki data, keterampilan, dan alat untuk memanfaatkannya,” katanya.

Kebutuhan memperkuat pengawasan aset kripto juga relevan bagi Indonesia. Pada Juni 2026, Satgas PASTI melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengumumkan penghentian kegiatan 228 pedagang aset keuangan digital ilegal sepanjang Januari hingga Mei 2026.

Temuan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh entitas yang dihentikan terlibat penipuan. Namun, penindakan itu memperlihatkan pentingnya pengawasan serta kemampuan mendeteksi risiko dalam aktivitas perdagangan aset digital domestik.

Sebagai perbandingan, CoinEdition Indonesia sebelumnya juga memberitakan penyelidikan dugaan penipuan perdagangan kripto OTC senilai US$35 juta di India, yang menunjukkan bagaimana kasus penipuan aset digital dapat berkembang menjadi persoalan pencucian uang.

Meski program ACAMS dan Chainalysis bukan kebijakan khusus untuk Indonesia, pendekatan pelatihan investigasi blockchain yang mereka kembangkan dapat menjadi referensi bagi profesional kepatuhan dan penyelidik dalam menghadapi risiko kejahatan aset digital yang semakin kompleks.

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.