Peretasan Binance US$6,3 Miliar Ungkap Sisi Tersembunyi Stablecoin

Last Updated:
Peretasan Binance US$6,3 Miliar Ungkap Sisi Tersembunyi Stablecoin
Google News

Get our latest news first. Add us as your Preferred Source on Google and tap "Star" to prioritize our updates.

  • Penerbit stablecoin membantu membekukan sekitar US$2,7 miliar aset terkait peretasan Binance.
  • Tether, Circle, Ripple, dan World Liberty Financial menggunakan kendali penerbit untuk menghentikan perpindahan token.
  • Bitcoin dan ETH di jaringan utamanya tidak memiliki mekanisme pembekuan serupa, memunculkan pertanyaan tentang desentralisasi.

Peretasan Binance senilai lebih dari US$6,3 miliar ternyata mengungkap sesuatu yang lebih besar daripada kelemahan keamanan sebuah bursa kripto. Di tengah upaya menghentikan pencurian aset, sejumlah penerbit stablecoin menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk membekukan token secara langsung melalui kontrak pintar.

Dalam hitungan jam setelah serangan pada 29 Oktober 2026, penerbit USDT, USDC, RLUSD, dan USD1 bergerak membatasi akses terhadap aset yang terhubung dengan dompet penyerang.

Menurut laporan Sentora Research pada 6 November, intervensi terkoordinasi tersebut membantu membekukan aset bernilai sekitar US$2,7 miliar.

Respons ini memperlihatkan bagaimana sistem keamanan terpusat dapat membantu membatasi dampak peretasan. Namun, kejadian yang sama juga memunculkan pertanyaan mengenai seberapa besar kendali penerbit atas aset yang beredar di blockchain.

Tether dan Circle Bekukan Miliaran Dolar Aset Curian Binance

Berdasarkan analisis Sentora, Tether menjadi salah satu pihak yang paling berperan dalam respons terhadap peretasan Binance.

Penerbit stablecoin terbesar tersebut memasukkan sejumlah alamat dompet terkait serangan ke daftar hitam, sehingga lebih dari 1,567 miliar USDT tidak dapat dipindahkan.

Circle menyusul dengan membekukan sekitar 823 juta USDC yang berada dalam satu dompet terkait penyerang.

Keduanya bertindak dalam rentang waktu yang sangat singkat. Menurut laporan Sentora, Circle melakukan pembekuan sekitar tiga menit setelah tindakan awal Tether.

Penerbit lain juga mengambil langkah serupa.

Ripple membekukan sekitar US$40 juta dalam bentuk RLUSD, sedangkan World Liberty Financial menghentikan perpindahan sekitar US$27 juta USD1 serta 48 juta token WLFI yang terkait dengan insiden tersebut.

Secara keseluruhan, tindakan berbagai pihak membatasi pergerakan aset bernilai miliaran dolar sebelum seluruh dana dapat dikonversi atau dipindahkan lebih jauh.

Data investigasi TRM Labs juga mengonfirmasi skala pembekuan tersebut, meskipun mencatat cakupan yang sedikit berbeda.

TRM menghitung sekitar 1,77 miliar USDT, 825 juta USDC, 40,5 juta RLUSD, dan 27,8 juta USD1 telah dibekukan dalam perkembangan awal insiden.

Perbedaan angka terutama berkaitan dengan waktu pencatatan dan transaksi pembekuan tambahan yang masuk dalam masing-masing laporan.

Stablecoin Bisa Dibekukan, tetapi Aset Belum Tentu Kembali

Kemampuan Tether dan Circle menghentikan perpindahan token berasal dari fitur administratif dalam kontrak pintar stablecoin yang mereka terbitkan.

Melalui fungsi blacklist atau pembekuan, penerbit dapat membatasi transaksi dari alamat tertentu yang diidentifikasi terkait aktivitas ilegal.

Dengan demikian, meskipun stablecoin digunakan melalui jaringan blockchain yang terbuka, penerbitnya masih memiliki kewenangan tertentu atas pergerakan token.

Namun, pembekuan tidak sama dengan pemulihan aset.

Token yang dibekukan belum otomatis kembali ke pemilik semula. Diperlukan proses hukum dan verifikasi kepemilikan untuk menentukan bagaimana aset tersebut dapat dipulihkan.

Menurut Sentora, salah satu mekanisme yang memungkinkan adalah memperoleh dasar hukum untuk pemulihan, membakar token yang telah dibekukan, kemudian menerbitkan token pengganti dengan nilai setara ke alamat yang sah.

Prosedur tersebut bergantung pada kebijakan penerbit, yurisdiksi, dan hasil proses hukum, sehingga tidak berarti semua aset yang dibekukan sudah melalui tahapan tersebut.

Dalam pembaruan keamanan resminya pada 3 November, Binance menyatakan sekitar US$2,85 miliar aset telah dibekukan atau dicegat.

Binance juga mengumumkan telah mengganti 98 persen aset terdampak menggunakan sumber daya perusahaan.

Sebagaimana diberitakan Coin Edition Indonesia, penggantian tersebut bukan berarti 98 persen dana yang dicuri berhasil direbut kembali dari peretas.

Bitcoin dan Ethereum Tidak Bisa Dibekukan dengan Cara yang Sama

Di sisi lain, peretasan Binance juga memperlihatkan keterbatasan kewenangan penerbit stablecoin.

Menurut Sentora, penyerang masih menguasai aset bernilai sekitar US$3,3 miliar yang tidak memiliki mekanisme pembekuan terpusat seperti USDT atau USDC.

Aset tersebut mencakup 18.270 BTC dan lebih dari 420.000 ETH.

Berbeda dengan stablecoin yang diterbitkan perusahaan, Bitcoin tidak memiliki penerbit yang dapat memasukkan alamat dompet ke daftar hitam melalui fungsi administratif token.

ETH native di Ethereum mainnet juga tidak memiliki fitur pembekuan oleh penerbit.

Karena itu, pihak yang ingin menghentikan perpindahan aset tersebut harus mengandalkan pendekatan lain, seperti pelacakan transaksi, kerja sama dengan penyedia layanan, atau penegakan hukum ketika dana mencapai platform yang dapat diintervensi.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa keamanan aset kripto tidak hanya ditentukan oleh teknologi blockchain, tetapi juga oleh jenis aset dan mekanisme pengendalian yang melekat padanya.

Arbitrum Turut Bertindak, Kendali Jaringan Jadi Sorotan

Selain penerbit stablecoin, respons terhadap peretasan juga melibatkan pihak yang memiliki kewenangan keamanan pada tingkat jaringan blockchain.

Sentora mencatat bahwa Arbitrum Security Council menggunakan mekanisme darurat untuk membatasi akses penyerang terhadap aset pada jaringan Layer-2 tersebut.

Laporan Sentora memperkirakan nilai intervensinya sekitar US$19 juta.

Sementara itu, investigasi TRM Labs mencatat bahwa Security Council memindahkan 8.426 ETH dan 74,6 juta ARB dari kendali penyerang, dengan nilai sekitar US$30 juta saat pengamatan.

Tindakan ini dilakukan melalui kewenangan darurat pada infrastruktur Arbitrum, bukan melalui fitur pembekuan ETH pada jaringan utama Ethereum.

Peristiwa tersebut memperlihatkan adanya beberapa tingkat kendali dalam industri kripto.

Pada satu sisi, kewenangan tersebut dapat membantu menghentikan perpindahan aset hasil kejahatan dalam situasi darurat.

Namun, pada sisi lain, kemampuan pihak tertentu mengubah kondisi akses terhadap aset menimbulkan pertanyaan mengenai desentralisasi, proses pengambilan keputusan, dan batas penggunaan kewenangan tersebut.

Bagi pengguna kripto, kasus ini menunjukkan bahwa kepemilikan aset di blockchain tidak selalu berarti seluruh transaksi bebas dari intervensi pihak penerbit atau pengelola infrastruktur.

Peretasan Binance memperlihatkan dua sisi keamanan kripto sekaligus: kendali terpusat dapat membantu membatasi kerugian akibat pencurian, tetapi juga menunjukkan bahwa sebagian aset digital tetap bergantung pada keputusan pihak tertentu.

Perdebatan utamanya kini bukan sekadar apakah pembekuan token efektif menghentikan peretas, melainkan bagaimana kewenangan tersebut dijalankan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.