- Likuidasi kripto mencapai US$1,25 miliar dalam 24 jam, dengan posisi long menyumbang 88,6 persen.
- Bitcoin dan Ethereum mencatat likuidasi masing-masing sekitar US$331 juta dan US$213 juta.
- Open interest Bitcoin yang meningkat dan lemahnya permintaan spot memunculkan risiko likuidasi susulan.
Pasar kripto kembali diguncang likuidasi besar-besaran. Dalam 24 jam, posisi perdagangan senilai lebih dari US$1,25 miliar terpaksa ditutup, dengan hampir 90 persen berasal dari trader yang bertaruh pada kenaikan harga.
Bitcoin dan Ethereum menjadi dua aset yang paling terdampak. Ketika harga BTC turun menuju US$75.500, sejumlah posisi dengan leverage tinggi tidak mampu bertahan menghadapi tekanan pasar.
Berdasarkan data CoinGlass yang dikutip dalam pengamatan 6 November 2026, sebanyak 239.733 trader mengalami likuidasi selama periode tersebut.
Namun, pertanyaan terpenting bukan hanya seberapa besar posisi yang telah dilikuidasi, melainkan apakah tekanan jual paksa sudah berakhir.
Laporan Bitfinex menunjukkan bahwa sebagian trader justru kembali membangun posisi leverage selama penurunan harga sebelumnya. Di sisi lain, arus dana ETF Bitcoin spot AS masih menunjukkan pelemahan.
Kombinasi ini membuat risiko gelombang likuidasi berikutnya tetap terbuka.
Trader Long Jadi Korban Terbesar Likuidasi Kripto US$1,25 Miliar
Menurut data CoinGlass, dari total likuidasi sekitar US$1,25 miliar, sebanyak US$1,11 miliar berasal dari posisi long, sedangkan posisi short menyumbang US$142,17 juta.
Artinya, trader yang memperkirakan harga kripto akan naik menanggung sekitar 88,6 persen dari seluruh nilai posisi yang dilikuidasi.
Bitcoin mencatat likuidasi terbesar, mencapai sekitar US$331 juta.
Dari jumlah tersebut, sekitar US$297,9 juta berasal dari posisi long dan US$31,7 juta dari posisi short.
Ethereum menyusul dengan nilai likuidasi sekitar US$213 juta, termasuk US$177,5 juta dari posisi long dan US$31,2 juta dari posisi short.
Perbedaan kecil antara total dan rincian posisi terjadi karena data likuidasi diperbarui secara berkelanjutan, sehingga pengamatan pada waktu berbeda dapat menghasilkan angka yang sedikit berubah.
Dalam periode tersebut, Binance mencatat porsi likuidasi terbesar, yakni sekitar 45,2 persen dari keseluruhan pasar yang dipantau.
Posisi tunggal terbesar yang dilaporkan merupakan perdagangan Ethereum senilai US$10,94 juta.
Secara sederhana, likuidasi terjadi ketika jaminan atau margin yang dimiliki trader tidak lagi mencukupi untuk mempertahankan posisi dengan leverage.
Ketika harga bergerak berlawanan dengan posisi tersebut, platform dapat menutup perdagangan secara paksa.
Namun, angka US$1,25 miliar merupakan nilai posisi yang dilikuidasi, bukan berarti seluruh jumlah tersebut merupakan kerugian modal bersih trader.

Open Interest Bitcoin Masih Tinggi, Tekanan Jual Bisa Berlanjut?
Likuidasi besar biasanya mengurangi sebagian posisi berleverage di pasar derivatif. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis berarti seluruh risiko telah hilang.
Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah open interest, yakni jumlah kontrak derivatif yang masih terbuka dan belum diselesaikan.
Ketika open interest menurun, sebagian posisi kemungkinan telah ditutup atau dilikuidasi.
Namun, ada perbedaan penting antara open interest yang dihitung dalam dolar AS dan yang dinyatakan dalam satuan Bitcoin.
Nilai open interest dalam dolar dapat turun hanya karena harga BTC melemah, tanpa harus disertai pengurangan jumlah kontrak atau eksposur yang setara.
Karena itu, perubahan open interest dalam denominasi BTC dapat memberikan gambaran tambahan mengenai aktivitas posisi derivatif.
Dalam laporan Bitfinex Alpha pada 2 November 2026, open interest agregat futures Bitcoin tercatat naik 12,1 persen menjadi 694.728 BTC selama 19 hari hingga 31 Oktober.
Menariknya, peningkatan tersebut berlangsung ketika harga Bitcoin justru turun 5,3 persen, dari US$81.897 menjadi US$77.589.
Pada saat yang sama, open interest dalam denominasi dolar relatif stabil di sekitar US$53,7 miliar.
Temuan ini menunjukkan bahwa posisi derivatif kembali dibangun selama harga melemah, meskipun sebagian posisi sebelumnya telah terlikuidasi.
Bitfinex juga mencatat funding rate tetap positif, dengan tingkat pendanaan tahunan pada sejumlah platform perpetual mencapai sekitar 17 persen dalam perdagangan 30 Oktober.
Funding rate positif menunjukkan bahwa pemegang posisi long membayar pendanaan kepada pemegang posisi short, yang dapat mencerminkan kecenderungan bullish di pasar perpetual.
Namun, indikator tersebut tidak berarti seluruh trader mengambil posisi long.
Masalahnya, jika posisi berleverage kembali menumpuk saat harga belum stabil, penurunan berikutnya dapat memicu rangkaian likuidasi baru.
Dengan demikian, likuidasi besar saat ini belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh posisi berisiko telah tersapu dari pasar.
Ikuti kami di X untuk pembaruan kripto real-time.
Investor Spot dan ETF Bitcoin Juga Mengalami Tekanan
Tekanan terhadap Bitcoin tidak hanya berasal dari perdagangan futures.
Dalam laporan yang sama, Bitfinex menemukan bahwa pemegang Bitcoin jangka pendek mulai merealisasikan kerugian untuk pertama kalinya sejak Agustus.
Hal itu terlihat dari indikator Spent Output Profit Ratio (SOPR) yang turun menjadi 0,992.
SOPR mengukur perbandingan nilai Bitcoin ketika dibelanjakan atau dipindahkan dengan nilai saat terakhir diperoleh.
Pembacaan di bawah 1 menunjukkan bahwa koin yang berpindah dalam kelompok pengamatan tersebut, secara agregat, direalisasikan pada nilai lebih rendah daripada harga perolehannya.
Dengan kata lain, sebagian investor jangka pendek mulai melepas Bitcoin dalam kondisi rugi.
Tekanan juga terlihat pada produk ETF Bitcoin spot Amerika Serikat.
Berdasarkan data SoSoValue yang dikutip Bitfinex, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sekitar US$643,2 juta pada 30 Oktober.
Angka tersebut membuat Oktober menjadi bulan pertama dengan arus keluar bersih sejak Juni 2026.
Memasuki November, permintaan institusional belum menunjukkan pemulihan yang konsisten.
Menurut rekapitulasi arus ETF oleh TFTC, ETF Bitcoin spot AS mengalami arus keluar bersih sekitar US$869,8 juta selama 2–5 November, termasuk US$430,2 juta pada perdagangan 5 November.
Arus keluar bersih ini mencerminkan penurunan dana bersih pada produk ETF, bukan bukti bahwa seluruh nilai tersebut langsung dijual melalui satu transaksi di pasar Bitcoin.
Meski demikian, data tersebut menunjukkan bahwa permintaan melalui instrumen ETF belum mampu memberikan dukungan yang konsisten terhadap harga.
Kondisi ini menjadi perhatian karena pelemahan pembelian spot dapat membuat Bitcoin lebih rentan terhadap tekanan dari posisi derivatif.
Sebelumnya, Coin Edition Indonesia melaporkan bahwa Bitcoin kembali menghadapi struktur bearish di bawah empat EMA utama, dengan support terdekat di sekitar US$75.271.

Liquidation Heatmap Bitcoin Tunjukkan Risiko di Bawah US$76.000
Selain posisi yang telah terlikuidasi, pasar masih menghadapi konsentrasi likuiditas likuidasi pada sejumlah level harga.
Dalam snapshot Bitcoin Liquidation Heatmap dari Alpha Finance yang digunakan artikel sumber, Bitcoin diperdagangkan sekitar US$75.507 pada 6 November.
Model tersebut mengidentifikasi sekitar US$1,12 miliar potensi likuiditas likuidasi posisi long di bawah harga saat pengamatan.
Dua konsentrasi terbesar yang disoroti berada pada:
- US$75.206, dengan estimasi likuiditas likuidasi sekitar US$147,2 juta.
- US$75.057, dengan estimasi sekitar US$143,9 juta.
Sementara itu, di sisi atas terdapat estimasi likuidasi posisi short sekitar US$91,3 juta pada US$77.517.
Level-level tersebut menunjukkan area yang berpotensi meningkatkan volatilitas apabila harga bergerak mendekatinya.
Jika Bitcoin turun menuju kelompok likuidasi long, penutupan paksa posisi dapat menambah tekanan jual dan mempercepat penurunan.
Sebaliknya, kenaikan menuju kelompok likuidasi short dapat memicu pembelian kembali posisi, yang berpotensi memperkuat pantulan harga.
Namun, liquidation heatmap merupakan estimasi berdasarkan model, bukan daftar pasti posisi yang akan dilikuidasi.
Harga likuidasi aktual dapat berubah mengikuti leverage, jaminan, pembukaan atau penutupan posisi, serta kondisi pasar.
Angka pada heatmap juga berubah secara real-time sehingga level terbaru dapat berbeda dari snapshot awal.
Ethereum menghadapi risiko serupa setelah mencatat likuidasi sekitar US$210 juta hingga US$213 juta dalam pengamatan sumber.

Apakah Gelombang Likuidasi Kripto Sudah Berakhir?
Likuidasi US$1,25 miliar menunjukkan bahwa penurunan pasar telah menghapus banyak posisi berleverage tinggi, terutama dari trader yang memperkirakan harga akan terus naik.
Namun, belum ada bukti kuat bahwa tekanan jual paksa telah mencapai titik akhirnya.
Data Bitfinex menunjukkan bahwa posisi futures Bitcoin sempat meningkat dalam denominasi BTC ketika harga sedang turun.
Funding rate yang tetap positif juga memperlihatkan masih adanya kecenderungan mengambil risiko kenaikan di pasar derivatif.
Sementara itu, penjualan rugi oleh pemegang jangka pendek dan arus keluar ETF menunjukkan bahwa permintaan pasar spot masih menghadapi tekanan.
Untuk mengonfirmasi bahwa kondisi mulai stabil, investor perlu memantau beberapa perkembangan:
- Penurunan open interest dalam denominasi BTC yang berlangsung secara berkelanjutan.
- Funding rate bergerak menuju level netral.
- Permintaan pasar spot dan arus ETF mulai pulih.
- Frekuensi serta nilai likuidasi posisi long besar semakin berkurang.
Perkembangan tersebut menjadi semakin penting setelah aksi jual di Wall Street menghapus sekitar US$3 triliun kapitalisasi pasar dan menyeret Bitcoin.
Selama tekanan dari pasar saham dan pelemahan permintaan spot belum mereda, risiko volatilitas tinggi masih terbuka.
Likuidasi US$1,25 miliar mungkin telah mengurangi sebagian leverage berlebihan, tetapi belum membuktikan Bitcoin dan Ethereum telah mencapai titik terendah. Apabila harga kembali turun menuju konsentrasi posisi long, gelombang penutupan paksa berikutnya masih mungkin terjadi.
Berlangganan saluran YouTube kami untuk berita kripto terbaru.
Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.