Prediksi Harga Bitcoin ke US$10.000 Bikin Heboh, Scott Melker Malah Membantah!

Last Updated:
Prediksi Harga Bitcoin ke US$10.000 Bikin Heboh, Scott Melker Malah Membantah!
Google News

Get our latest news first. Add us as your Preferred Source on Google and tap "Star" to prioritize our updates.

  • Mike McGlone kembali memperkirakan Bitcoin bisa jatuh ke US$10.000 jika S&P 500 anjlok 20 persen.
  • Scott Melker meragukan skenario tersebut karena koreksi Nasdaq belum menyeret Bitcoin sedalam yang diperkirakan.
  • Data on-chain tunjukkan 70 persen modal Bitcoin berada dalam posisi rugi, dengan support US$75.000 terancam.

Prediksi harga Bitcoin (BTC) kembali memicu perdebatan setelah analis senior Bloomberg Intelligence, Mike McGlone, mempertahankan target ekstrem US$10.000. Menurutnya, harga Bitcoin berpotensi kehilangan satu digit apabila pasar saham Amerika Serikat mengalami penurunan berkepanjangan.

Namun, analis kripto Scott Melker justru mempertanyakan dasar perkiraan tersebut.

Perdebatan muncul ketika Bitcoin diperdagangkan sekitar US$75.963 pada Sabtu, 7 November 2026, naik 0,5 persen dalam 24 jam tetapi masih melemah 1,6 persen sepanjang sepekan.

Di tengah perbedaan pandangan itu, data on-chain terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar modal yang diinvestasikan dalam Bitcoin sedang berada dalam posisi rugi.

Lalu, apakah target US$10.000 benar-benar masuk akal, atau justru ada level harga lain yang lebih penting diperhatikan saat ini?

Mike McGlone Tetap Prediksi Harga Bitcoin Bisa Jatuh ke US$10.000

Melalui unggahan di X pada 6 November, Mike McGlone kembali mempertahankan proyeksi bearish yang pertama kali ia sampaikan pada kuartal pertama 2025.

Ketika itu, Bitcoin masih diperdagangkan di atas US$100.000.

McGlone memperkirakan BTC dapat mengalami penurunan ekstrem hingga kehilangan satu digit harga apabila indeks S&P 500 turun sekitar 20 persen dan bertahan pada level rendah dalam waktu cukup lama.

Menurutnya, US$10.000 merupakan level pivot penting yang berpotensi kembali diuji Bitcoin dalam skenario bear market besar.

Ia juga berpendapat bahwa fase penurunan pasar saham berikutnya kemungkinan sudah dimulai.

Dalam penjelasannya, McGlone menyoroti pola waktu yang menurutnya menarik.

Bitcoin disebut mencapai puncak pada 6 Oktober 2025, sementara Nasdaq mencapai puncaknya tepat setahun kemudian, pada 6 Oktober 2026.

Ia mengaitkan kedua peristiwa tersebut dengan kemungkinan perubahan siklus pasar aset berisiko.

McGlone juga mengingatkan bahwa perkiraan ekstrem bukan hal baru dalam rekam jejak analisanya.

Pada Oktober 2020, ketika Bitcoin berada di sekitar US$10.000, ia pernah memperkirakan BTC akan menambahkan satu digit harga.

Sebaliknya, pada kuartal pertama 2018, ia mengantisipasi kemungkinan Bitcoin kehilangan satu digit setelah reli besar sebelumnya.

Namun, keberhasilan atau ketepatan beberapa prediksi historis tidak membuktikan bahwa target US$10.000 kali ini akan tercapai.

Bitcoin Gagal Bertahan di US$80.000, Harga Tembaga Ikut Jadi Sorotan

McGlone juga menggunakan perkembangan pasar komoditas sebagai salah satu dasar untuk memperkuat kekhawatirannya.

Dalam analisis terpisah pada 6 November, ia menyoroti kegagalan Bitcoin mempertahankan harga di atas US$80.000.

Pada saat bersamaan, harga tembaga turun melewati area support sekitar US$6,40 per pon setelah pemilu sela AS.

Menurut McGlone, pelemahan kedua aset tersebut dapat menjadi tanda bahwa tekanan jual berpotensi meluas hingga akhir tahun.

Tembaga sering digunakan sebagai salah satu indikator kondisi ekonomi global karena memiliki peran penting dalam aktivitas industri, konstruksi, dan infrastruktur.

Karena itu, penurunan harga tembaga terkadang dikaitkan dengan kekhawatiran mengenai perlambatan permintaan ekonomi.

Namun, hubungan antara tembaga, saham, dan Bitcoin tidak selalu bergerak secara konsisten.

Penurunan harga komoditas tersebut tidak otomatis menyebabkan Bitcoin jatuh, apalagi memastikan target US$10.000 akan tercapai.

Sebagai konteks, laporan Stocktwits pada 7 November mencatat S&P 500 ditutup sekitar 7.376 poin pada Jumat, atau kurang lebih 6 persen di bawah level tertinggi 52 pekannya di 7.844.

Artinya, indeks tersebut masih cukup jauh dari penurunan 20 persen yang menjadi syarat dalam skenario McGlone.

Scott Melker Bantah Bitcoin Bisa Anjlok ke US$10.000

Pandangan berbeda datang dari Scott Melker, analis dan pembawa acara The Wolf of All Streets.

Melker menilai hubungan antara penurunan pasar saham dan target Bitcoin US$10.000 tidak sesederhana yang digambarkan McGlone.

Dalam perdebatan yang dipublikasikan melalui X, Melker menyoroti Nasdaq yang telah memasuki wilayah koreksi setelah turun lebih dari 10 persen dari puncak terbarunya.

Menurut Melker, penurunan tersebut telah mencapai sekitar setengah dari skenario koreksi pasar saham sebesar 20 persen.

Namun, Bitcoin masih diperdagangkan sekitar US$17.000–US$18.000 di atas titik terendah sebelumnya yang ia jadikan acuan.

Bagi Melker, kondisi tersebut belum menunjukkan tekanan harga yang sejalan dengan proyeksi Bitcoin jatuh menuju US$10.000.

Dengan kata lain, jika pasar saham sudah mengalami koreksi cukup besar tetapi Bitcoin masih bertahan jauh di atas level ekstrem tersebut, hubungan langsung antara kedua pergerakan menjadi layak dipertanyakan.

Namun, ada perbedaan penting dalam argumen keduanya.

McGlone menggunakan penurunan S&P 500 sebesar 20 persen, sedangkan Melker merujuk pada koreksi Nasdaq yang sudah melewati 10 persen.

Kedua indeks memiliki komposisi saham dan karakteristik yang berbeda.

Karena itu, penurunan Nasdaq sebesar 10 persen tidak berarti syarat penurunan S&P 500 sebesar 20 persen sudah setengah terpenuhi.

Selain itu, pergerakan Bitcoin tidak selalu memiliki hubungan linear dengan pasar saham.

Korelasi antara kedua kelas aset dapat berubah mengikuti likuiditas, kondisi ekonomi, dan perilaku investor.

Data Darkfost: Sekitar 70 Persen Modal Bitcoin Sedang Rugi

Di luar perdebatan McGlone dan Melker, data blockchain memberikan gambaran mengenai tekanan yang sedang dihadapi investor Bitcoin.

Analis on-chain Darkfost melalui unggahan pada 7 November menyatakan bahwa sebagian besar modal yang diinvestasikan dalam Bitcoin terkonsentrasi pada harga perolehan antara US$75.000 dan US$85.000.

Menurutnya, terdapat sekitar US$26 miliar modal Bitcoin dengan basis biaya di sekitar harga saat pengamatan.

Angka tersebut mencerminkan konsentrasi modal berdasarkan harga ketika koin terakhir berpindah secara on-chain, bukan berarti transaksi senilai US$26 miliar baru terjadi pada hari yang sama.

Data yang lebih menarik terlihat dari perbandingan modal dalam posisi untung dan rugi.

Darkfost memperkirakan hanya sekitar 30 persen modal yang diinvestasikan dalam Bitcoin masih berada dalam posisi untung.

Nilainya mencapai sekitar US$328 miliar.

Sementara itu, sekitar US$756 miliar modal berada dalam posisi rugi berdasarkan harga pasar saat pengamatan.

Kondisi Modal BitcoinEstimasi Nilai
Modal dalam posisi untungUS$328 miliar
Modal dalam posisi rugiUS$756 miliar
Total modal yang diamatiSekitar US$1,08 triliun
Porsi modal dalam posisi untungSekitar 30 persen
Porsi modal dalam posisi rugiSekitar 70 persen

Data ini bukan berarti investor telah merealisasikan kerugian senilai US$756 miliar.

Indikator tersebut mengelompokkan nilai modal berdasarkan posisi untung atau rugi yang belum direalisasikan, bukan menghitung besarnya kerugian aktual.

Perbedaan lainnya, 30 persen modal yang masih untung tidak dapat langsung diartikan sebagai 30 persen pemegang Bitcoin atau 30 persen jumlah BTC yang beredar.

Meski demikian, besarnya modal yang berada di bawah harga perolehan menunjukkan tekanan psikologis terhadap investor.

Ketika harga mendekati titik impas, sebagian pemegang aset mungkin memilih menjual untuk mengurangi risiko, sementara investor lain justru dapat melakukan akumulasi.

Jika Bitcoin Jebol US$75.000, Apakah US$70.000 Jadi Target Berikutnya?

Darkfost menilai area US$75.000 menjadi salah satu level penting yang perlu dipertahankan Bitcoin.

Alasannya, banyak modal tercatat memiliki harga perolehan di sekitar US$75.000–US$85.000.

Namun, jumlah modal yang berpindah tangan pada area US$70.000–US$75.000 relatif lebih kecil.

Menurut Darkfost, jika harga kehilangan support US$75.000, Bitcoin dapat bergerak menuju US$70.000 sebagai area support berikutnya.

Level tersebut menjadi perhatian karena terdapat konsentrasi modal investor yang sebelumnya membeli Bitcoin di sekitar harga itu.

Meskipun demikian, konsentrasi harga perolehan tidak otomatis menjamin munculnya pembelian baru.

Jika tekanan jual terus meningkat, support tersebut juga berpotensi gagal bertahan.

Kekhawatiran ini muncul setelah pasar derivatif mengalami likuidasi besar.

Sebelumnya, Coin Edition Indonesia melaporkan likuidasi kripto senilai US$1,25 miliar dalam 24 jam, dengan posisi long menyumbang sekitar 88,6 persen dari total nilai likuidasi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan harga tidak hanya memengaruhi investor spot, tetapi juga trader dengan leverage tinggi.

CryptoQuant Soroti Permintaan Bitcoin dan Likuiditas Stablecoin yang Melemah

Peringatan lain datang dari Julio Moreno, Head of Research di CryptoQuant.

Dalam analisis yang dipublikasikan pada 5 November, Moreno menyoroti dua perkembangan yang menurutnya membuat kondisi Bitcoin semakin sulit.

Pertama, permintaan terhadap Bitcoin mengalami penurunan dengan laju yang semakin cepat.

Kedua, likuiditas stablecoin juga menyusut, menunjukkan berkurangnya salah satu sumber dana yang dapat digunakan untuk membeli aset kripto.

Moreno menempatkan area US$73.000–US$76.000 sebagai zona support penting bagi Bitcoin.

Rentang tersebut berdekatan dengan level US$75.000 yang disoroti Darkfost.

Artinya, meskipun target US$10.000 McGlone masih merupakan skenario ekstrem, sejumlah indikator jangka pendek menunjukkan bahwa Bitcoin memang menghadapi risiko koreksi lanjutan.

Sebelumnya, analisis Bitcoin menjelang pemilu sela AS juga telah menempatkan US$73.000 sebagai salah satu support yang perlu diperhatikan apabila tekanan jual berlanjut.

Namun, kelemahan permintaan dan likuiditas tidak cukup untuk memastikan titik terendah harga yang akan dicapai.

Prediksi Harga Bitcoin: US$70.000 atau US$10.000 yang Lebih Relevan?

Jika dibandingkan, perdebatan McGlone dan Melker sebenarnya membahas dua hal berbeda dari kondisi on-chain saat ini.

McGlone mengajukan skenario makroekonomi ekstrem, ketika penurunan pasar saham yang besar dan berkepanjangan berpotensi menyeret Bitcoin menuju US$10.000.

Melker mempertanyakan apakah hubungan tersebut cukup kuat, mengingat Bitcoin belum menunjukkan penurunan sedalam yang diperkirakan ketika Nasdaq memasuki wilayah koreksi.

Sementara itu, Darkfost dan Julio Moreno lebih menekankan kondisi pasar yang sedang berlangsung.

Data mereka menempatkan US$75.000 dan US$73.000–US$76.000 sebagai area penting, dengan US$70.000 menjadi support berikutnya apabila tekanan jual berlanjut.

Dengan Bitcoin masih berada di sekitar US$76.000 pada pengamatan 7 November, level-level tersebut lebih dekat untuk dipantau daripada target US$10.000 yang membutuhkan perubahan pasar jauh lebih ekstrem.

Untuk saat ini, belum ada bukti bahwa penurunan S&P 500 sebesar 20 persen pasti akan menyeret Bitcoin ke US$10.000.

Namun, konsentrasi modal yang berada dalam posisi rugi, melemahnya permintaan, dan berkurangnya likuiditas stablecoin menunjukkan bahwa risiko penurunan belum sepenuhnya mereda.

Pergerakan Bitcoin di sekitar US$75.000 akan menjadi salah satu petunjuk awal apakah pembeli masih mampu mempertahankan harga atau pasar bersiap menguji support lebih rendah.

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.