Crypto Indonesia Pagi Ini 7 November: NFP AS Melonjak, Bitcoin Tertekan, OJK Sanksi 2 Pelaku Kripto

Last Updated:
Crypto Indonesia Pagi Ini 7 November NFP AS Melonjak, Bitcoin Tertekan, OJK Sanksi 2 Pelaku Kripto
Google News

Get our latest news first. Add us as your Preferred Source on Google and tap "Star" to prioritize our updates.

  • NFP AS bertambah 165.000 pada Oktober, jauh melampaui perkiraan 65.000 dan memicu kekhawatiran soal suku bunga The Fed.
  • Bitcoin tertekan mendekati US$75.000 setelah rilis NFP, sementara pasar kripto Indonesia masih kesulitan pulih.
  • OJK menjatuhkan sanksi administratif kepada dua penyelenggara aset digital dan kripto sepanjang Oktober 2026.

Kabar baik bagi ekonomi Amerika Serikat ternyata belum tentu menjadi kabar baik bagi Bitcoin.

Laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis Jumat malam (6/11) menunjukkan penciptaan lapangan kerja jauh lebih kuat daripada perkiraan. Alih-alih menyambutnya dengan kenaikan, pasar kripto justru kembali menghadapi tekanan karena investor memperhitungkan kemungkinan suku bunga tetap tinggi lebih lama.

Di Indonesia, pergerakan pasar juga masih rapuh. Indeks kripto domestik belum menunjukkan pemulihan yang meyakinkan, sementara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap tindakan penegakan aturan terhadap sejumlah penyelenggara industri aset digital.

NFP AS Tembus 165.000, Mengapa Bitcoin Justru Tertekan?

Berdasarkan laporan resmi Bureau of Labor Statistics (BLS) yang dirilis pada Jumat (6/11) pukul 20.30 WIB, ekonomi AS menciptakan 165.000 pekerjaan baru di luar sektor pertanian sepanjang Oktober.

Hasil tersebut jauh melampaui perkiraan pasar yang berada di sekitar 65.000 pekerjaan.

Tingkat pengangguran juga turun dari 4,2 persen menjadi 4,1 persen, sementara rata-rata upah per jam naik 0,4 persen secara bulanan dan 3,1 persen secara tahunan.

Ada satu detail lain yang cukup penting.

BLS merevisi angka penambahan pekerjaan September dari sebelumnya 29.000 menjadi 60.000. Data Agustus juga dinaikkan menjadi 186.000, sehingga total revisi dua bulan mencapai tambahan 84.000 pekerjaan.

Dengan kata lain, pasar tenaga kerja AS ternyata lebih kuat daripada yang sebelumnya diperkirakan.

Namun, kekuatan ekonomi tersebut menghadirkan persoalan bagi investor kripto.

Ketika perekrutan dan pertumbuhan upah tetap solid, The Fed memiliki lebih sedikit alasan untuk melonggarkan kebijakan moneter secara cepat, terutama jika inflasi masih berada di atas target.

Suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga dan memperketat kondisi likuiditas, sehingga berpotensi menekan permintaan terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.

Setelah laporan dirilis, dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat. Bitcoin sempat turun ke sekitar US$75.548, berdasarkan data pasar yang dikutip Dow Jones Newswires pada 6 November.

Namun, NFP bukan satu-satunya penyebab pelemahan Bitcoin. Pasar sebelumnya sudah tertekan oleh aksi jual saham teknologi AS, perubahan sentimen politik, serta likuidasi posisi leverage.

Harga Bitcoin Hari Ini Masih Bertahan di Sekitar Rp1,37 Miliar

Berdasarkan data Bursa Kripto CFX yang diperbarui pada Jumat (6/11) pukul 21.20 WIB, Bitcoin diperdagangkan sekitar Rp1,374 miliar.

Ethereum berada di kisaran Rp40,37 juta, XRP sekitar Rp21.237, sedangkan Solana diperdagangkan mendekati Rp1,63 juta.

Indeks CFX10 tercatat pada level 910,98, turun sekitar 0,74 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pasar kripto Indonesia masih berada dalam tekanan setelah koreksi tajam pada awal November.

Dari sisi teknikal, Bitcoin juga menghadapi tantangan untuk memulihkan tren.

Dalam prediksi harga Bitcoin terbaru Coin Edition Indonesia, BTC disebut bergerak di bawah empat indikator exponential moving average (EMA), dengan support penting di sekitar US$75.271.

Jika area tersebut gagal dipertahankan, pasar berisiko menghadapi tekanan lanjutan. Sebaliknya, keberhasilan Bitcoin kembali menguat di atas level teknikal terdekat dapat menjadi sinyal awal stabilisasi.

Namun, pergerakan akhir pekan tetap perlu diwaspadai karena perubahan likuiditas dapat memperbesar volatilitas.

Radar Kripto Indonesia: OJK Sanksi Dua Penyelenggara Aset Digital

Perkembangan penting dari industri kripto Indonesia datang melalui laporan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang dipublikasikan pada 5 November.

Dalam siaran pers resminya, OJK mengungkap telah mengenakan sanksi administratif kepada dua penyelenggara aset keuangan digital dan aset kripto (AKD-AK) sepanjang Oktober 2026.

Selain itu, tiga penyelenggara inovasi teknologi sektor keuangan (ITSK) juga dikenai sanksi.

Secara keseluruhan, tindakan administratif terhadap kedua kelompok penyelenggara tersebut mencakup dua sanksi penghentian kegiatan tertentu, satu denda administratif, dan 18 peringatan tertulis.

OJK tidak merinci pembagian setiap jenis sanksi kepada masing-masing kelompok penyelenggara dalam pengumuman tersebut.

Artinya, angka 18 peringatan tertulis tidak bisa langsung dianggap seluruhnya ditujukan kepada perusahaan kripto.

Meski demikian, perkembangan ini menunjukkan bahwa pengawasan industri aset digital tidak hanya berlangsung melalui pemberian izin, tetapi juga penegakan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku.

Dalam laporan yang sama, OJK menyebut sebanyak 34 entitas telah memperoleh izin di ekosistem perdagangan kripto Indonesia, termasuk 28 pedagang aset keuangan digital, dua bursa, dua lembaga kliring, dan dua kustodian.

Regulator juga telah memberikan persetujuan kepada delapan penyedia jasa pembayaran sebagai lembaga penunjang.

Bagi investor, perkembangan tersebut relevan karena status izin, pengawasan, dan kemampuan penyelenggara menjaga aset nasabah merupakan hal yang berbeda dari sekadar banyaknya pilihan aset kripto yang diperdagangkan.

Sebelumnya, Coin Edition Indonesia telah mengulas kewajiban pedagang dan kustodian dalam melindungi aset kripto nasabah, termasuk pembatasan penyimpanan dalam hot wallet serta tanggung jawab ketika terjadi kehilangan aset.

Angka yang Bercerita: Ekonomi AS Kuat, tetapi Pasar Kripto Belum Tenang

Data NFP Oktober yang mencapai 165.000 pekerjaan berarti hasil aktual sekitar 2,5 kali perkiraan konsensus 65.000.

Selisih 100.000 pekerjaan tersebut cukup besar untuk mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga.

Namun, ada perbedaan penting antara kondisi ekonomi dan respons pasar.

Bertambahnya lapangan kerja merupakan sinyal positif bagi aktivitas ekonomi, tetapi juga dapat mempertahankan tekanan inflasi melalui permintaan dan kenaikan upah.

Itulah mengapa Bitcoin tidak selalu menguat ketika data ekonomi AS menunjukkan hasil yang baik.

Pada akhirnya, arah harga kripto juga ditentukan oleh bagaimana data tersebut mengubah ekspektasi kebijakan The Fed, likuiditas dolar, dan selera risiko investor.

Yang Perlu Dipantau Akhir Pekan Ini

Setelah rilis NFP, perhatian pasar beralih pada kemampuan Bitcoin mempertahankan area US$75.000 dan perkembangan arus dana investor institusional.

Agenda makro berikutnya datang pada Selasa (10/11), ketika AS dijadwalkan merilis Consumer Price Index (CPI) Oktober pukul 20.30 WIB, berdasarkan kalender resmi BLS.

Data inflasi tersebut akan menjadi petunjuk berikutnya untuk menilai apakah penguatan pasar tenaga kerja turut disertai tekanan harga yang masih tinggi.

Jika inflasi kembali melampaui ekspektasi, pasar dapat semakin memperhitungkan kebijakan moneter yang ketat. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan berpotensi meredakan sebagian tekanan.

Radar Senin Pagi: Apakah Bitcoin mampu kembali stabil setelah NFP yang lebih kuat dari perkiraan, dan bagaimana perkembangan pasar domestik menjelang rilis CPI AS pekan depan?

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.