NFP Lemah, Inflasi Memanas: The Fed Dilema, Bitcoin Waspada

Last Updated:
NFP Lemah, Inflasi Memanas: The Fed Dilema, Bitcoin Waspada
Google News

Get our latest news first. Add us as your Preferred Source on Google and tap "Star" to prioritize our updates.

  • The Fed menghadapi dilema setelah pertumbuhan lapangan kerja AS melemah, sementara inflasi masih jauh di atas target 2 persen.
  • Pasar memperkirakan suku bunga tetap pada Oktober, tetapi lonjakan CPI dan PPI mempertahankan peluang kenaikan berikutnya.
  • Bitcoin, emas, dan saham AS menanti keputusan FOMC serta rilis inflasi PCE dan PDB pada 29 Oktober.

Federal Reserve (The Fed) menghadapi keputusan kebijakan moneter yang sulit menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27–28 Oktober 2026. Pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat (AS) mulai kehilangan momentum, tetapi tekanan inflasi justru meningkat sehingga mempersempit ruang gerak bank sentral.

Situasi tersebut membuat pejabat The Fed harus menyeimbangkan risiko perlambatan ekonomi dengan upaya mengembalikan inflasi menuju target 2 persen.

Pada September, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen. Namun, data ekonomi Oktober menghadirkan sinyal yang saling bertentangan. Pertumbuhan lapangan kerja jauh di bawah ekspektasi, sementara inflasi konsumen dan produsen melampaui perkiraan pasar.

Sebagian besar ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini. Berdasarkan survei Reuters yang diterbitkan pada 20 Oktober, sebanyak 94 dari 100 ekonom memproyeksikan suku bunga tidak berubah pada Oktober, sementara seluruh responden memperkirakan kenaikan pada Desember.

Namun, Bank of America menjadi salah satu pihak yang memperkirakan kenaikan suku bunga dapat kembali dilakukan bulan ini.

Bagi Bitcoin (BTC), emas, dan saham AS, keputusan tersebut menjadi katalis penting. Pasar tidak hanya menunggu hasil pemungutan suara FOMC, tetapi juga mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai kemungkinan perubahan kebijakan berikutnya.

Data NFP AS Melemah, The Fed Hadapi Tekanan dari Pasar Tenaga Kerja

Laporan ketenagakerjaan September yang dirilis pada 2 Oktober menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS mulai kehilangan momentum.

Menurut Bureau of Labor Statistics (BLS), nonfarm payrolls (NFP) hanya bertambah 29.000 pekerjaan, jauh di bawah perkiraan pasar sebesar 89.000.

Tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,2 persen dari 4,1 persen pada bulan sebelumnya. Sementara itu, rata-rata upah per jam hanya tumbuh 0,1 persen secara bulanan, lebih rendah daripada ekspektasi sebesar 0,3 persen.

Data tersebut menunjukkan aktivitas perekrutan berlangsung lebih lambat daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Gambaran pasar tenaga kerja juga semakin lemah setelah BLS merevisi angka pertumbuhan pekerjaan untuk dua bulan sebelumnya.

Pertambahan pekerjaan Agustus diturunkan dari 162.000 menjadi 133.000, sedangkan angka Juli direvisi dari kenaikan 21.000 menjadi penurunan 10.000 pekerjaan.

Secara keseluruhan, revisi tersebut mengurangi pertumbuhan lapangan kerja yang sebelumnya dilaporkan sebesar 60.000 pekerjaan.

Perubahan tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa permintaan tenaga kerja AS sedang melambat lebih cepat daripada perkiraan awal.

Bagi The Fed, kondisi ini menciptakan alasan untuk berhati-hati dalam menaikkan suku bunga lagi. Biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat menekan investasi perusahaan, konsumsi rumah tangga, dan kebutuhan perekrutan tenaga kerja.

Pertumbuhan upah yang lebih lambat juga dapat membantu meredakan tekanan inflasi apabila tren tersebut berlanjut.

Namun, satu laporan ketenagakerjaan yang mengecewakan belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ekonomi AS sedang memasuki resesi.

Pejabat The Fed masih perlu mempertimbangkan data pertumbuhan ekonomi, konsumsi, dan inflasi untuk menentukan apakah perlambatan pasar tenaga kerja cukup kuat untuk mengubah arah kebijakan.

Inflasi CPI dan PPI AS Memanas, Peluang Kenaikan Suku Bunga Bertahan

Di saat pasar tenaga kerja menunjukkan pelemahan, perkembangan inflasi justru memberikan sinyal yang berlawanan.

Berdasarkan laporan CPI September yang dirilis BLS pada 14 Oktober, indeks harga konsumen AS naik 0,6 persen secara bulanan dan 3,7 persen secara tahunan.

Inflasi tahunan tersebut melampaui perkiraan sebesar 3,6 persen, sedangkan kenaikan bulanannya sesuai ekspektasi pasar.

Inflasi inti atau core CPI, yang mengecualikan komponen makanan dan energi, meningkat 0,3 persen secara bulanan, lebih tinggi daripada perkiraan sebesar 0,2 persen.

Secara tahunan, core CPI naik menjadi 2,6 persen dari 2,4 persen pada bulan sebelumnya, sekaligus melampaui ekspektasi 2,5 persen.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu faktor utama yang mendorong inflasi.

Harga bensin melonjak 9,1 persen sepanjang September dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan CPI bulanan. Biaya tempat tinggal juga meningkat 0,4 persen.

Tekanan harga tidak berhenti pada tingkat konsumen.

Sehari setelah rilis CPI, BLS melaporkan PPI September naik 1,3 persen secara bulanan, jauh di atas perkiraan 0,6 persen.

Indeks harga produsen inti, yang mengecualikan makanan dan energi, juga meningkat 0,7 persen, dibandingkan ekspektasi sebesar 0,3 persen.

Lonjakan PPI menunjukkan bahwa perusahaan menghadapi peningkatan biaya produksi dan layanan. Sebagian kenaikan tersebut berpotensi diteruskan kepada konsumen, meskipun besarnya dampak bergantung pada kondisi permintaan dan kemampuan bisnis menyesuaikan harga.

Kombinasi inflasi yang memanas dan perekrutan tenaga kerja yang melemah menempatkan The Fed dalam posisi sulit.

Kenaikan suku bunga tambahan dapat memperkuat upaya mengendalikan inflasi, tetapi berisiko semakin menekan aktivitas ekonomi.

Sebaliknya, mempertahankan suku bunga memberi kesempatan kepada pejabat bank sentral untuk menilai perkembangan data berikutnya, meskipun tekanan harga masih bertahan di atas target.

Apakah The Fed Akan Menahan atau Menaikkan Suku Bunga?

Pertemuan FOMC Oktober akan menentukan apakah kenaikan suku bunga September sudah cukup untuk sementara waktu atau apakah tekanan inflasi membutuhkan langkah pengetatan tambahan.

Skenario dasar pasar masih mengarah pada keputusan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75–4,00 persen.

PIMCO juga memperkirakan jeda kenaikan bunga pada Oktober, tetapi tetap melihat kemungkinan pengetatan tambahan sebelum akhir tahun.

Sementara itu, perkiraan Bank of America mengenai kenaikan 25 basis poin pada Oktober memperlihatkan adanya perbedaan pandangan terhadap langkah yang paling tepat.

Jika The Fed memutuskan mempertahankan bunga, hasil tersebut tidak otomatis berarti siklus kenaikan suku bunga telah berakhir.

Pejabat bank sentral dapat memilih menunggu dampak kebijakan September sambil menilai apakah inflasi yang tinggi bersifat sementara atau semakin persisten.

Investor juga akan memperhatikan pernyataan FOMC mengenai kondisi tenaga kerja, inflasi, dan aktivitas ekonomi.

Selain itu, hasil pemungutan suara dapat memberikan petunjuk mengenai tingkat perbedaan pandangan di antara anggota komite.

Apabila ada pejabat yang menginginkan kenaikan bunga lebih cepat, perbedaan tersebut dapat mencerminkan besarnya kekhawatiran terhadap inflasi meskipun pertumbuhan pekerjaan sedang melemah.

Sebelumnya, Coin Edition Indonesia melaporkan perubahan peluang suku bunga The Fed pada Oktober, ketika pasar semakin memperhitungkan risiko pengetatan moneter akibat inflasi AS.

Bitcoin, Emas, dan Saham AS Menanti Keputusan FOMC

Keputusan The Fed berpotensi memengaruhi Bitcoin dan aset berisiko lainnya melalui perubahan ekspektasi suku bunga, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta kekuatan dolar.

Secara umum, Bitcoin dan saham dapat memperoleh dukungan ketika investor memperkirakan kondisi keuangan yang lebih longgar.

Namun, pergerakan pasar tidak selalu mengikuti hubungan tersebut secara langsung, terutama ketika inflasi tinggi disertai kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi.

Reaksi pasar terhadap laporan ekonomi Oktober memperlihatkan bagaimana data ketenagakerjaan dan inflasi dapat menghasilkan respons yang berbeda.

Setelah laporan NFP pada 2 Oktober, Bitcoin sempat diperdagangkan di atas US$87.000 sebelum bergerak menuju US$85.300 berdasarkan sejumlah pengamatan intraday.

Pada periode yang sama, harga emas menguat, sementara indeks saham utama AS menutup perdagangan lebih tinggi.

Kondisi berbeda terjadi setelah laporan CPI pada 14 Oktober.

Bitcoin melemah ke sekitar US$81.900 dalam pengamatan awal setelah rilis data. Emas juga mengalami penurunan, sedangkan indeks Nasdaq Composite ditutup melemah 1,88 persen.

Tekanan tersebut memperlihatkan bagaimana inflasi yang lebih tinggi daripada perkiraan dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter ketat.

Namun, respons pasar kembali berbeda pada 15 Oktober ketika PPI menunjukkan kenaikan tajam.

Bitcoin sempat turun di bawah US$80.000 sebelum pulih menuju US$81.000. Sementara itu, emas menguat hingga sekitar US$4.156,52 per troy ounce dalam pengamatan intraday yang dikutip.

Indeks Dow Jones Industrial Average, S&P 500, dan Nasdaq Composite juga berhasil menutup sesi perdagangan lebih tinggi.

Pemulihan tersebut berlangsung bersamaan dengan penurunan imbal hasil Treasury AS dan pelemahan dolar, sementara data penjualan ritel yang lebih kuat turut memengaruhi sentimen pasar.

Perbedaan respons tersebut menunjukkan bahwa laporan inflasi yang lebih tinggi tidak selalu menghasilkan penurunan harga aset secara seragam.

Pasar juga mempertimbangkan perkembangan imbal hasil obligasi, nilai dolar, kondisi likuiditas, serta perubahan ekspektasi terhadap langkah The Fed berikutnya.

Inflasi PCE dan PDB AS Akan Menentukan Ekspektasi FOMC Desember

Setelah keputusan FOMC Oktober, perhatian pasar akan beralih kepada dua laporan ekonomi AS yang dijadwalkan terbit pada 29 Oktober.

Berdasarkan kalender resmi Bureau of Economic Analysis (BEA), pemerintah AS akan merilis inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September dan estimasi awal pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal III pada hari yang sama.

Bagi pembaca Indonesia, kedua laporan tersebut dijadwalkan pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 19.30 WIB.

Sementara itu, keputusan FOMC akan diumumkan lebih awal pada hari yang sama, yakni pukul 01.00 WIB, disusul konferensi pers Kevin Warsh pada pukul 01.30 WIB.

Dengan demikian, laporan PCE dan PDB akan terbit sekitar 18,5 jam setelah keputusan suku bunga The Fed.

Perkiraan Inflasi PCE September dan PDB Kuartal III

PCE merupakan indikator inflasi yang menjadi acuan penting The Fed dalam menilai perkembangan tekanan harga.

Menurut laporan BEA untuk Agustus 2026, inflasi PCE utama tercatat sebesar 3,4 persen secara tahunan, sedangkan core PCE mencapai 3,0 persen.

Menjelang rilis September, salah satu perkiraan pasar pada 26 Oktober menempatkan inflasi PCE inti bulanan sebesar 0,3 persen, meningkat dari 0,2 persen pada bulan sebelumnya.

Sementara itu, perkiraan inflasi PCE utama dan inti secara tahunan masing-masing berada di sekitar 3,6 persen dan 3,1 persen.

Data pertumbuhan ekonomi juga akan menjadi perhatian.

Salah satu proyeksi yang dikutip dalam analisis menempatkan pertumbuhan PDB AS kuartal III sebesar 3,2 persen secara tahunan setelah disesuaikan secara annualized, dibandingkan pertumbuhan kuartal II yang telah direvisi menjadi 2,2 persen.

Perkiraan tersebut bukan hasil resmi. Proyeksi antarlembaga juga dapat berbeda sebelum BEA menerbitkan angkanya.

Karena kedua laporan diterbitkan setelah pertemuan FOMC Oktober, hasilnya tidak akan memengaruhi keputusan yang diumumkan pada 28 Oktober waktu AS.

Namun, keduanya berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap pertemuan Desember dan arah kebijakan moneter menuju akhir tahun.

Empat Skenario Dampak PCE dan PDB terhadap Bitcoin

Jika inflasi lebih rendah daripada perkiraan dan pertumbuhan ekonomi tetap kuat, pasar dapat melihatnya sebagai kombinasi positif. Tekanan harga yang mereda tanpa pelemahan ekonomi tajam berpotensi mendukung Bitcoin dan saham.

Sebaliknya, inflasi yang lebih panas disertai pertumbuhan ekonomi kuat dapat memperbesar keyakinan bahwa The Fed perlu mempertahankan kebijakan ketat atau kembali menaikkan suku bunga. Kondisi tersebut berpotensi mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi dan menekan aset berisiko.

Apabila inflasi mereda tetapi pertumbuhan ekonomi melemah, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dapat membantu Bitcoin dan saham. Meski demikian, kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dapat membatasi penguatan tersebut.

Skenario yang lebih sulit muncul ketika inflasi tetap tinggi sementara pertumbuhan ekonomi melemah.

Dalam kondisi tersebut, The Fed akan menghadapi tekanan dari dua arah karena perlu menjaga stabilitas harga tanpa semakin membebani perekonomian.

Ketidakpastian tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas Bitcoin, emas, dan pasar saham.

Untuk memahami perbedaan kedua agenda ini secara lebih rinci, pembaca juga dapat melihat jadwal The Fed, PCE, dan PDB pada 29 Oktober yang telah dibahas Coin Edition Indonesia.

Apa yang Perlu Diperhatikan Setelah Keputusan Suku Bunga The Fed?

Keputusan suku bunga pada 28 Oktober waktu AS menjadi peristiwa utama yang perlu diperhatikan investor dalam jangka pendek.

Namun, arah Bitcoin, emas, dan saham AS setelah pengumuman akan sangat bergantung pada bagaimana pasar menafsirkan pernyataan resmi FOMC serta konferensi pers Kevin Warsh.

Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan indeks dolar AS (DXY) menjadi indikator awal yang dapat membantu mengukur perubahan ekspektasi suku bunga.

Apabila imbal hasil Treasury meningkat dan dolar menguat setelah pengumuman, kondisi tersebut dapat mengindikasikan bahwa pasar menilai sikap The Fed lebih ketat daripada perkiraan sebelumnya.

Sementara itu, perkembangan imbal hasil riil, yakni imbal hasil obligasi setelah memperhitungkan ekspektasi inflasi, menjadi faktor penting bagi harga emas.

Imbal hasil riil yang meningkat dapat mengurangi daya tarik emas sebagai aset tanpa bunga, sedangkan penurunannya berpotensi memberikan dukungan bagi logam mulia tersebut.

Bagi Bitcoin dan saham, perubahan selera risiko investor juga akan menentukan apakah kondisi keuangan yang lebih longgar cukup untuk mendorong kenaikan harga.

Perhatian berikutnya tertuju pada hasil PCE dan PDB tanggal 29 Oktober, yang akan memberikan gambaran tambahan mengenai inflasi dan pertumbuhan ekonomi menjelang rapat FOMC Desember.

Secara keseluruhan, The Fed menghadapi dilema antara inflasi yang masih tinggi dan pertumbuhan lapangan kerja yang melemah.

Meskipun pasar secara luas memperkirakan suku bunga tetap pada Oktober, keputusan tersebut tidak akan menjadi satu-satunya penentu arah pasar.

Pernyataan FOMC, konferensi pers Kevin Warsh, serta laporan PCE dan PDB berikutnya dapat mengubah ekspektasi investor dan memengaruhi pergerakan Bitcoin, emas, serta saham AS memasuki November 2026.

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.