Lonjakan imbal hasil obligasi Jepang memicu kekhawatiran utang dan tekanan pasar global

Lonjakan imbal hasil obligasi Jepang memicu kekhawatiran utang dan tekanan pasar global

Last Updated:
Lonjakan imbal hasil obligasi Jepang memicu kekhawatiran utang dan tekanan pasar global
  • Imbal hasil obligasi 30-tahun Jepang mencapai rekor sekitar 4,2%, meningkatkan kekhawatiran baru tentang stabilitas fiskal.
  • Imbal hasil JGB melonjak karena harga minyak, kekhawatiran inflasi, dan risiko pinjaman baru memukul permintaan investor.
  • Kenaikan imbal hasil Jepang dapat menekan pasar yen, likuiditas global, dan aset berisiko, termasuk kripto.

Pasar obligasi Jepang mengirimkan peringatan di seluruh pasar global karena utang pemerintah berjangka panjang menghadapi salah satu aksi jual paling tajam dalam beberapa dekade. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) 30-tahun mencapai rekor sekitar 4,2% pada 18 Mei, sementara imbal hasil 10-tahun naik menjadi 2,8%, level tertinggi sejak 1996.

Sumber: X

Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran atas inflasi, keberlanjutan utang, dan stabilitas fiskal di Jepang. Investor juga bereaksi terhadap harga minyak yang lebih tinggi, risiko pinjaman baru, dan permintaan yang lebih lemah untuk utang jangka panjang.

Kekhawatiran Utang Jepang Kembali Menjadi Sorotan

Menurut laporan media lokal, tekanan terbaru menyusul pengumuman Perdana Menteri Sanae Takaichi bahwa pemerintahnya sedang mempertimbangkan anggaran tambahan. Hal ini meningkatkan ekspektasi bahwa Jepang dapat menerbitkan obligasi yang menutupi defisit untuk membiayai langkah-langkah dukungan bagi rumah tangga dan bisnis. Prospek ini menambah tekanan ke pasar yang sudah sensitif terhadap risiko pasokan dan selera investor yang lemah.

Seorang pejabat di sebuah rumah sekuritas asing di Jepang mengatakan tidak ada investor yang secara aktif membeli obligasi. Pejabat itu lebih lanjut menambahkan bahwa suku bunga jangka panjang akan terus naik.

Sementara itu, penilaian terbaru Dana Moneter Internasional Jepang menempatkan utang publik bruto di atas 200% dari PDB. Meskipun IMF memperkirakan penurunan bertahap dalam jangka menengah, investor tetap fokus pada tanda-tanda defisit yang lebih luas.

Imbal Hasil Obligasi Global Naik Seiring Penyebaran Kekhawatiran Inflasi

Aksi jual obligasi Jepang terungkap seiring dengan tekanan di pasar utang utama lainnya. Imbal hasil Treasury AS 10-tahun naik sebanyak 3,6 basis poin menjadi 4,631%, level tertinggi sejak Februari 2025.

Demikian pula, imbal hasil dua tahun AS menyentuh level tertinggi 14 bulan di 4,105%, sementara imbal hasil Treasury 30 tahun mencapai level tertinggi satu tahun sebesar 5,159%. Aksi jual yang lebih luas mengikuti kenaikan tajam harga minyak.

Minyak mentah Brent mencapai $ 111 per barel karena upaya untuk mengakhiri perang Iran terhenti setelah serangan pesawat tak berawak di pembangkit listrik tenaga nuklir di Uni Emirat Arab. Pasar sekarang memperkirakan peluang lebih dari 50% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada bulan Desember. Sebelum perang, investor mengharapkan penurunan suku bunga tahun ini.

Volatilitas Yen dan Risiko Likuiditas Menjadi Fokus

Yen juga melemah karena tekanan obligasi meningkat. Dolar sempat naik di atas 159 yen dalam perdagangan Tokyo, level tertinggi sejak 30 April. Ahli strategi suku bunga senior DBS Eugene Leow mengatakan pengeluaran fiskal tambahan dari Jepang telah memperburuk sentimen pasar obligasi.

Dia menggambarkan langkah itu sebagai bagian dari penetapan harga bergulir di seluruh kurva imbal hasil regional. Obligasi zona euro juga berada di bawah tekanan. Imbal hasil 10-tahun Jerman mencapai level tertinggi 15 tahun di 3,193%, memperpanjang kenaikan 14 basis poin minggu lalu.

Namun, untuk saat ini, pasar obligasi Jepang menjadi sinyal risiko global utama. Jika imbal hasil terus naik, investor mungkin memperhatikan volatilitas yen, repatriasi obligasi asing, likuiditas global yang lebih ketat, dan permintaan aset berisiko.

Namun demikian, tekanan dapat mereda jika inflasi mendingin, tetapi campuran utang yang tinggi, biaya energi yang lebih tinggi, dan kebutuhan pinjaman baru membuat prospek fiskal Jepang berada di bawah pengawasan pasar yang lebih tajam.

Terkait: Iran Memperkenalkan Platform Asuransi Maritim Berbasis Bitcoin untuk Pengiriman Hormuz

Disclaimer: The information presented in this article is for informational and educational purposes only. The article does not constitute financial advice or advice of any kind. Coin Edition is not responsible for any losses incurred as a result of the utilization of content, products, or services mentioned. Readers are advised to exercise caution before taking any action related to the company.